Lifestyle

Mantan Petinggi WHO Bagikan Lima Biang Kerok Kasus Covid-19 Indonesia Naik Lagi

Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama ada lima faktor kenapa jumlah kasus Covid-19 meningkat


Mantan Petinggi WHO Bagikan Lima Biang Kerok Kasus Covid-19 Indonesia Naik Lagi
Tenaga kesehatan melakukan Swab PCR kepada warga di GSI Lab, Jakarta, Rabu (23/3/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Kasus Covid-29 Indonesia tercatat hampir 2000 kasus baru per 22 Juni 2022 kemarin, padahal 22 Mei kasus baru 227 orang dan 23 Mei 174 orang.

Berarti, dalam 1 bulan naik sekitar 10 kali lipat, tinggi sekali dan jelas perlu kewaspadaan.

Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya, menjelaskan bahwa ada lima faktor kenapa jumlah kasus Covid-19 bisa hampir mencapai 2.000 kasus, padahal sempat mengalami penurunan signifikan.

baca juga:

Covid-19 tidak bisa diprediksi

Menurut Prof Tjandra, Covid-19 masih unpredictable atau tidak bisa dipredikasi, dan rendahnya jumlah test Covid-19 akan membuat Indoensia makin sulit menilai perkembangan perangai virus. 

"Ini juga sebabnya WHO menyebut ada 3 skenario virus di 2022 (base, best, worse), dan kita belum tahu mana yang akan terjadi," sambung Prof Tjandra.

Lepas masker di luar ruangan

Prof Tjandra mengatakan, kebijakan lepas masker di luar ruangan jelas masih perlu pertimbangan, setidaknya untuk yang ber risiko.

Seperti diketahui, ada dua jenis risiko penularan. Ke satu pada mereka yang lansia, komorbid, gangguan imun, ke dua pada keadaan dimana risiko penularan lebih besar (kerumunan banyak orang, kontak dengan mereka yang bergejala). 

Oleh karena itu, menurut Prof Tjandra, prokes secara umum harus jadi perhatian.

Rendahnya surveilan dan penyelidikan epidimiologi.

Melihat rendahnya kedua faktor tersebut, Prof Tjandra mengatakan bahwa upaya surveilan ketat dan penyelidikan epidemiologi (PE) di lapangan jelas harus ditingkatkan, sebagai salah satu dasar utama pengendalian outbreak.

"Kalau bisa semua atau hampir semua kasus baru tersedia data dari mana dan bagaimana sehingga sampai tertular," katanya.

Presentase vaksinasi masih rendah

Menurut Prof Tjandra, presentase vaksinasi lengkap di Indonesia, masih 60 persen. Presentase ini membuat Indonesia berasa i nomor dua terendah di ASEAN, hanya di atas Myanmar. 

"Booster bahkan masih 23an persen. Jelas harus ada upaya khusus untuk ditingkatkan," tambahnya.

Anggap ringan subvarian Omicron

Prof Tjandra menjelaskan, sudah ada negara yang melaporkan kenaikan kasus berat yang di rawat di rumah sakit. 

"Jadi, walaupun di anggap BA.5 dan BA.4 ini secara umum lebih ringan, tetapi masyarakat yang akhirnya masuk RS harus terjamin perawatannya. Kita juga belum sepenuhnya tahu tentang ada tidaknya dampak jangka panjang pada ribuan orang yang di bulan Juni ini sudah tertular Covid-19," jelasnya.