News

Mantan Menteri Keuangan Austria Terlibat Kasus Suap Senilai Rp154 Triliun

Mantan Menteri Keuangan Austria Terlibat Kasus Suap Senilai Rp154 T


Mantan Menteri Keuangan Austria Terlibat Kasus Suap Senilai Rp154 Triliun
Karl-Heinz Grasser, mantan menteri keuangan Austria, terlibat korupsi senilai Rp154 triliun (sn.at)

AKURAT.CO, Mantan Menteri Keuangan Austria divonis hukuman 8 tahun penjara atas keterlibatannya dalam gurita korupsi yang dilakukannya.

Karl-Heinz Grasser dinyatakan bersalah pada hari Jumat (4/12) lalu atas kasus penggelapan, uang suap, hingga pemalsuan barang bukti dalam sebuah kesepakatan untuk menjual ribuan apartemen publik.

Dilansir dari BBC, pengadilan di Vienna menyatakan bahwa Grasser terlibat dalam kasus suap dengan nilai lebih dari EUR 9 juta atau sekitar Rp154,3 triliun. Karl menolak tuduhan tersebut dan akan mengajukan banding.

Kasus suap tersebut melibatkan 14 orang terdakwa yang terlibat dalam berbagai dakwaan mulai dari pencucian uang, penipuan, hingga pemalsuan bukti.

Pengadilan juga menyatakan bahwa Grasser dan seorang perantara memberikan informasi mengenai sebuah tawaran berupa skema memprivatisasi 60 ribu apartemen, yang memungkinkan saingannya untuk mengajukan tawaran yang lebih tinggi. Sebuah konsorsium berhasil membeli sejumlah apartemen tersebut senilai EUR 961 juta, di mana tiga tahun kemudian nilai apartemen tersebut telah berlipat ganda.

Pengadilan juga menetapkan dua orang pejabat lainnya, Walter Meischberger, mantan sekjen Partai Kebebasan Austria dan Peter Hochegger, seorang pelobi sebagai terdakwa. Keduanya mendapatkan satu persen dari pembelian apartemen-apartemen tersebut senilai EUR 9,6 juta atau sekitar Rp164,6 triliun dari penawar tertinggi tersebut. Selanjutnya, uang tersebut dibagi ke tiga bank di Lichtenstein.

Dilansir dari AFP, putusan tersebut didasarkan pada sejumlah pernyataan dari saksi dan barang bukti berupa panggilan telepon yang disadap.

“Mereka yang menjalankan urusannya secara jujur tidak akan membuka rekening di Lichtenstein,” jelas hakim Marion Hohenecker.

Marion juga menambahkan bahwa kemenangan penawar tertinggi tersebut dapat dilakukan hanya karena adanya penyalahgunaan otoritas dari mantan menteri keuangan tersebut.