News

Mantan Duta Besar Israel Ungkap Penindasan Palestina Terinspirasi dari Apartheid di Afrika Selatan

Meniru apartheid di Afrika Selatan, Israel menggusur warga Palestina ke area sekecil mungkin di kantong yang terpecah-pecah.


Mantan Duta Besar Israel Ungkap Penindasan Palestina Terinspirasi dari Apartheid di Afrika Selatan
Anak-anak Palestina mengibar-ngiibarkan bendera nasionalnya di sekolah yang menampung pengungsi pada 14 Mei 2021.

AKURAT.CO, Dua mantan duta besar Israel dengan gamblang menyatakan Israel telah melakukan kejahatan apartheid. Pesan ini disampaikan dalam artikel tentang sistem segregasi rasial di Afrika Selatan yang berakhir pada 1994.

Dalam kolom opini yang terbit di laman berita Afrika Selatan GroundUp pada Selasa (8/6), mantan duta besar Ilan Baruch dan Alon Liel meminta 'dunia' untuk ikut berjuang mengakhiri rezim apartheid Israel, seperti saat masyarakat bersatu untuk menyingkirkan rezim apartheid Afrika Selatan.

Dilansir dari Middle East Monitor, Liel merupakan duta besar untuk Afrika Selatan selama masa transisi dari apartheid pada 1992-1994. Sementara itu, Baruch menjabat pada 2005-2008.

"Sudah waktunya dunia menyadari bahwa yang terlihat di Afrika Selatan beberapa dekade lalu juga terjadi di wilayah Palestina yang diduduki. Sama seperti saat dunia bersatu untuk berjuang melawan apartheid di Afrika Selatan, inilah saatnya bagi dunia untuk mengambil tindakan diplomatik yang tegas dan bekerja guna membangun masa depan yang setara, bermartabat, dan aman bagi warga Palestina sekaligus Israel," tulis keduanya.

Saat menggambarkan sistem apartheid Israel, Baruch dan Liel menulis Israel telah memerintah Palestina dengan sistem hukum 2 tingkat selama lebih dari setengah abad. Menurut hukum itu, dalam sebidang tanah yang sama di Tepi Barat, pemukim Israel tinggal di bawah hukum sipil Israel, sedangkan orang Palestina hidup di bawah hukum militer.

Mereka pun menjelaskan bagaimana upaya Israel mengubah geografi dan demografi Tepi Barat dengan hanya membangun pemukiman ilegal Yahudi dan proyek-proyek lanjutan yang menghubungkan mereka dengan Israel. Pemukiman ini terhubung melalui jaringan jalan khusus Yahudi yang telah mengubah usaha ilegal menjadi pinggiran kota yang nyaman.

"Ini terjadi bersamaan dengan pengambilalihan banyak tanah Palestina, termasuk penggusuran dan pembongkaran rumah warga Palestina. Pemukiman dibangun dan diperluas dengan mengorbankan komunitas Palestina yang digusur ke lahan yang semakin sempit," sambungnya.

Fenomena ini telah sering disebut oleh para pengamat sebagai pembersihan etnis yang lambat, tetapi pasti.

Menurut kedua mantan duta besar itu, Israel telah terinspirasi oleh proyek Bantustan Afrika Selatan, di mana warga kulit hitam dipisahkan dari warga kulit putih minoritas Afrika Selatan. Dalam perjalanan ke Afrika Selatan pada awal 1980an, mereka ingat Menteri Pertahanan Israel Ariel Sharon menyatakan sangat berminat dalam proyek tersebut.

"Melihat sepintas peta Tepi Barat saja, tak diragukan lagi dari mana Sharon mendapatkan inspirasi," tambahnya.

Baruch dan Liel menegaskan Bantustan Afrika Selatan dan peta wilayah Palestina yang diduduki saat ini sama-sama berdasarkan gagasan untuk memusatkan populasi yang 'tidak diinginkan' di area sekecil mungkin, pada kantong-kantong yang tak saling bersebelahan.

"Perlahan-lahan, populasi ini diusir dari tanah mereka dan dipusatkan ke kantong-kantong padat dan terpecah-pecah. Baik Afrika Selatan saat itu maupun Israel hari ini sama-sama berupaya menggagalkan otonomi politik dan demokrasi sejati," pungkas mereka.

Senada dengan Baruch dan Liel, pada bulan April, Human Rights Watch (HRW) bersama beberapa kelompok terkemuka lainnya menyatakan Israel telah melakukan kejahatan apartheid dan penganiayaan. Pada bulan Januari, kelompok HAM Israel B'Tselem mengatakan Israel mempromosikan dan melanggengkan supremasi Yahudi di antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan. Kedua lembaga ini menggemakan temuan laporan PBB 2017 yang menyimpulkan Israel memang mempraktikkan apartheid. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co