Lifestyle

Mantan Direktur WHO Ungkap Pertimbangan Evaluasi PTM

Lima organisasi profesi dokter spesialis meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM)


Mantan Direktur WHO Ungkap Pertimbangan Evaluasi PTM
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SDN Manggarai 01, Jakarta, Senin (30/8/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Jakarta dan wilayah lain dengan status PPKM level 1 dan 2 berlangsung secara penuh mulai 3 Januari 2022.

Namun, kebijakan ini tentu menimbulkan sejumlah kekhawatiran mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir.

Selain itu, kasus varian Omicron semakin banyak terutama di wilayah DKI Jakarta. 

baca juga:

Terkait hal ini, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama memberikan sejumlah pertimbangan kepada pemerintah terkait kebijakan PTM saat ini.

Prof Tjandra menyatakan bahwa belum lama ini lima organisasi profesi dokter spesialis, yakni Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (PERKI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Indonesia Intensif Indonesia (PERDATIN) mengirimkan surat kepada empat kementerian terkait evaluasi PTM. 

Dalam surat tersebut, pemerintah diminta memberikan kebebasan kepada anak dan keluarga untuk memilih PTM atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

"Anak-anak yang memiliki komorbid dihimbau untuk memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter, dan melengkapi imunisasi Covid-19. Begitu juga pihak sekolah wajib menerapkan mekanisme kontrol dan buka tutup sekolah," kata Prof Tjandra dalam keterangan resminya kepada AKURAT.CO, Selasa (25/1/2022). 

Dalam surat yang sama dinyatakan bahwa anak dapat mengalami komplikasi berat yaitu “multisystem inflammatory in children associated with COVID-19 (MIS-C”) , bahkan Long Covid.

Meski begitu, risiko long Covid-19 ini masih perlu penelitian lebih lanjut. Namun, Prof Tjandra menyatakan bahwa hal ini tetap tidak boleh diabaikan. 

"Pendapat para pakar beberapa negara, antara lain dari South Dakota, Amerika Serikat, juga mulai membicarakan kemungkinan Long Covid pada anak. Walaupun memang tentu perlu penelitian lebih lanjut, kita tentu tidak ada yang ingin ada dampak seperti ini terjadi pada anak-anak kita," ujar Prof Tjandra.

Pertimbangan lainnya yang disampaikan oleh Prof Tjandra adalah kasusu Covid-19 yang kian meningkat.

Bukan hanya jumlah absolutnya yang sudah sekitar 3000-an sehari tetapi juga ada kecenderungan peningkatan angka kepositifan

"Perlu pula menilai perkembangan reproductive number (angka reproduksi), yang semuanya menunjukkan potensi penularan di masyarakat. Apalagi angka transmisi local varian Omicron juga terus meningkat," tegasnya. 

Lebih lanjut, Prof Tjandra memaparkan hasil penelitian di Afrika Selatan terakit kasus Omicron pada anak-anak.

Faktanya, angka masuk rumah sakit (admission rate) anak dibawah 4 tahun ternyata 49% lebih tinggi pada Omicron dibandingkan Delta.

Data lain dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa angka anak masuk rumah sakit meningkat di Amerika, dengan rata-rata 4,3 balita per 100.000  pada sampai awal Januari.

"Kalau dibandingkan dengan angka awal Desember maka ada peningkatan 48 persen, peningkatan tertinggi pada kelompok umur ini selama pandemi Covid-19," kata Prof Tjandra.

Lebih lanjut, Prof Tjandra menyatakan bahwa ada daerah yang disebut sebagai medan perang (battlefield) pertama melawan Omicron.

Mirisnya, di daerah battlefield itu juga sudah ada beberapa kecamatan yang masuk zona merah.

"Setidaknya di zona merah dalam suatu medan perang maka baik kalau upaya perlindungan kesehatan ditingkatkan, termasuk evaluasi pelaksanaan PTM setidaknya dimulai di daerah-daerah itu," pungkas Prof Tjandra.