News

Mangkrak 10 Tahun, Apa Kabar Tersangka Korupsi IM2 Johnny Swandi Sjam?

Sarjono Turin mengaku ada kendala yang dialami tim penyidik.


Mangkrak 10 Tahun, Apa Kabar Tersangka Korupsi IM2 Johnny Swandi Sjam?
Uang pengganti kasus IM2 diserahkan ke negara (Dok. Puspenkum Kejagung)

AKURAT.CO, Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung sejak 2013 hingga 2022 tak kunjung melimpahkan berkas perkara mantan Direktur  Utama PT Indosat, Johnny Swandi Sjam ke pengadilan untuk disidangkan.

Johnny Swandi Sjam merupakan tersangka kasus korupsi penggunaan jaringan frekuensi radio 2.1 GHz atau 3G  PT Indosat oleh PT Indosat Mega Media (IM2) yang merugikan negara Rp 1,3 triliun.

Satu tersangka lainnya yakni Direktur Utama PT Indosat Mega Media (IM2) Tbk, Indar Atmanto telah divonis terbukti bersalah dan dihukum penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta.  Tak hanya itu, Majelis hakim juga memvonis untuk membayar uang pengganti Rp 1,3 triliun.

baca juga:

Melihat hal ini, pakar hukum pidana dari Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad meminta Kejaksaan Agung untuk menjelaskan kepada publik proses penangan perkara tersebut yang hingga kini tidak kunjung ada kepastian hukum.

"Kasus-kasus yang sudah ditangani harus diberikan kepastian hukum tentang kelanjutannya. Jadi yang harus dilakukan adalah memproses secara cepat dan memberikan keterangan pada publik tentang proses penanganan tersebut," katanya saat dimintai pandangan hukum,  Kamis (19/5/2022).

Selain itu, kata Suparji, Kejaksaan Agung juga harus menjelaskan apa yang menjadi kendala sehingga tidak ada kepastian hukum terhadap tersangka yang hingga kini tidak jelas proses hukumnya.

"Harus dijelaskan faktor faktor terjadinya terhadap perkara yang belum selesai perlu ada kejelasan dan kepastian," jelasnya.

Namun, Suparji tidak berfikir negatif terkait tidak adanya kepastian hukum terhadap tersngka tersebut meskipun sudah 10 tahun berlalu.

"Saya kira tidak ada faktor untuk memperlama tapi lebih pada faktor hukum misalkan barang bukti atau alat bukti," ujarnya.

"Komitmen kejagung untuk menyelesaikan masalah saya kira sudah sangat jelas dengan melihat berbagai perkara yang sudah ditangani," tutupnya.

Sementara dikonfirmasi terkait ketidak jelasan nasib Johnny Swandi Sjam, Direktur Eksekusi pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Sarjono Turin mengaku ada kendala yang dialami tim penyidik untuk memajukan berkas perkara tersangka Johnny Swandi Sjam ke pengadilan.

"Terhadap Johnny Swandi Sjam dan lain-lain itu, tim penyidik pada waktu itu kesulitan mencari ahlinya," katanya beberapa waktu lalu di Kejaksaan Agung, Jakarta saat konfrensi pers terkait eksekusi uang pengganti perkara ini.

Dia menegaskan saksi ahli yang awalnya mau bersaksi untuk tersangka Indar Atmanto sehingga berkas bisa dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan berubah pikiran untuk bersaksi di tersangka lainnya.

"Ahli yang menjadi dalam perkara IM2 ini, di Indonesia hanya terbatas, hanya satu orang itu saja. Adanya ahli dari institute Bandung, professor apa itu, lupa namanya, yang bersangkutan, segala upaya dipaksa, lalu mengatakan saya tidak mau jadi ahli lagi, cukup sekali saja," jelasnya.

Atas hal ini, kata Turin, penyidik mengalami kesulitan untuk mencari saksi ahli yang memahami perkara ini untuk melanjutkan pemberkasan tersangka Johnny Swandi Sjam.

"Engga mau lagi dia, maunya sekali saja jadi saksi ahlinya," tegasnya.

Perkara yang merugikan negara Rp 1,3 triliun ini, kata Turin yang saat itu menjabat sebagai Kasubdit Penyidikan Tipikor pada Jampidsus, memang punya sejarah panjang.

"Jadi tersangka dalam kasus IM2 ini awalnya cukup banyak ada tersangka korporasi, tapi semenjak perkara pertama kami limpahkan ke pengadilan atas nama Indar Atmanto," ungkapnya.

Saat disinggung apakah sudah ada pemberhentian penyidikan (SP3) untuk tersangka Johnny Swandi Sjam. Turin menegaskan belum ada SP3 untuk tersangka tersebut. []