Lifestyle

Mandemi Masih Lama, Kesehatan Jiwa Anak Terancam

Anak yang selalu berada di rumah akan memiliki berbagai masalah


Mandemi Masih Lama, Kesehatan Jiwa Anak Terancam
Diana Setiyawati, Direktur Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi pembicara dalam konferensi virtual BNPB (AKURAT.CO/AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe)

AKURAT.CO, Februari sudah memasuki ujung. Itu artinya, Maret sudah di depan mata. Itu berarti, pandemi Covid-19 di Tanah Air sudah berjalan setahun. Banyak yang memprediksi bahwa keadaan ini masih terus berlanjut, dengan segala keadaan yang melekat.

Imbas dari terlalu lama berada di rumah dan sulit bersosialisasi karena harus menjaga jarak dan menghindari kerumunan, ahli memprediksi bahwa pandemi ini bisa menimbulkan efek buruk pada anak-anak.

"Semua orang harus tahu adalah, pihak yang diprediksi mendapatkan efek terburuk dari pandemi ini jika tidak diantisipasi adalah anak-anak. Kita bayangkan saja ketika anak selama setahun hingga dua tahun di rumah saja, ini tentu bisa memiliki efek yang berbeda buat mereka," demikian yang diungkapkan Diana Setiyawati, Direktur Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi pembicara dalam konferensi virtual BNPB "Keluarga Tangguh Covid-19: Lindungi Kesehatan Jiwa", pada Kamis, (25/2), yang dihadiri Akurat.co secara daring.

baca juga:

Kata Diana, anak yang selalu berada di rumah akan memiliki berbagai masalah. Ketika anak-anak usia pra sekolah dan mereka seharusnya sudah bisa membaca, mengembangkan kemampuan bahasa, bersosialisasi dalam kurun waktu setahun, anak-anak jadi tak memiliki konsep tentang hal ini.

Anak-anak yang dipaksa ada di rumah juga tidak bisa bersosialisasi dan bekerja sama. Hasilnya, mereka tidak bisa belajar setia kawan, hingga bisa melakukan sosialisasi. Maka tak heran jika ia khawatir kalau semua pihak tidak segera bergotong royong untuk mengakhiri pandemi ini, maka bisa mengorbankan generasi masa depan bangsa di kelak nanti.

Diana mengambil contoh dari Flu Spanyol yang terjadi pada 100 tahun lalu. Setelah diteliti longitudinal, ternyata orangtua yang mengandung anak-anak selama masa pandemi saat itu kemudian ketika sang buah hati tumbuh besar ternyata mengalami level sosial ekonomi yang lebih rendah, angka disabilitas lebih tinggi, hingga banyak masalah di bidang kesehatan.

"Itu karena apa? Karena anak-anak yang ada dalam kandungan saat Flu Spanyol yang membuat sistem kesehatan sedang sibuk atau banyak hal lain yang diprioritaskan," ujar Diana.

Pada kelompok lain, perkembangan kehidupan remaja juga bisa bermasalah karena mereka tidak bisa mengeksplorasi identitasnya. Hal ini mengakibatkan orangtua kehilangan anak remajanya yang tersesat di rimba media sosial dan game. Di kalangan lain, kelompok lanjut usia juga terkena dampaknya begitu signifikan.

Ia menganalisis bahwa seluruh keluarga akan terdampak, dan pilihannya hanya ada dua. Pertama, ada anggota keluarga yang terinfeksi atau merawat orang yang terinfeksi dan yang kedua terdampak secara ekonomi, psikologi, hingga sosial. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pandemi ini bisa mengalibatkan dua hal ini.

Irma Fauzia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu