Olahraga

Manajer: Pemain Arema Bakal dapat Pendampingan Psikologis

Manajer: Pemain Arema Bakal dapat Pendampingan Psikologis
Para pemain Arema FC melakukan selebrasi (Arema Fc)

AKURAT.CO, Manajer Arema FC, Ali Rifki mengungkapkan kondisi terbarunya timnya usai tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia mengatakan bahwa banyak pemain Arema yang mengalami syok akibat insiden tersebut.

Tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan ratusan korban jiwa itu memang meninggalkan duka mendalam bagi Arema. Selain karena korban adalah Aremania, yang merupakan kelompok suporter Singo Edan -julukan Arema, beberapa korban bahkan harus menghembuskan nafas terakhir di ruang ganti pemain, bahkan ada yang di pelukan pemain.

“Kondisi tim dua hari ini, kemarin saya melakukan video call dengan beberapa pemain, mereka berusaha tetap untuk menjaga kondisi, mental,” kata Ali Rifki ketika ditemui di Auditorium Wisma Kemenpora RI, Jakarta, Kamis (6/10).

baca juga:

“Karena mereka juga tertekan dengan tragedi kemarin, banyak yang shock, tapi ada juga yang langsung turun ke keluarga korban.”

Oleh karena itu, Ali mengatakan bahwa manajemen Arema akan memberikan pendampingan secara psikologis kepada para pemain. Hal itu akan dilakukan setelah tim besutan Javier Roca berkumpul kembali pasca-tragedi di Kanjuruhan.

“Nanti setelah kami menangani keluarga korban, kami akan mengumpulkan seluruh tim, dan akan kami tanyakan satu per satu dan akan kami bantu apabila terjadi apa-apa dengan mental mereka,” tutur Ali.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur terjadi usai Arema FC menelan kekalahan 2-3 dari Persebaya Surabaya dalam pertandingan Liga 1 Indonesia 2022-2023 bertajuk Derbi Jawa Timur pada Sabtu (01/10) lalu.

Suporter tuan rumah merasa kecewa dan tidak terima atas kekalahan timnya, hingga turun ke lapangan. Pihak kepolisian kemudian bertindak dengan menembakkan gas air mata kepada suporter di tribune, yang mengakibatkan para penonton panik dan berdesakkan untuk keluar dari stadion.

Hingga saat ini, menurut data Polri terbaru per Rabu (5/10), ada 131 orang yang meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan tersebut. Insiden itu menjadikan tragedi sepakbola terbesar kedua di dunia setelah tragedi di Estadio Nacional Peru 1964, yang mengakibatkan 328 orang tewas.