News

Malaysia Tahan 269 Pengungsi Rohingya, 1 Mayat Ditemukan di Kapal Selundupan


Malaysia Tahan 269 Pengungsi Rohingya, 1 Mayat Ditemukan di Kapal Selundupan
Sebelumnya, pihak berwenang Malaysia juga sempat menahan sebuah kapal yang membawa sekitar 200 pengungsi Rohingya pada 5 April lalu (SCMP)

AKURAT.CO, Satuan Tugas Nasional mengumumkan bahwa angkatan laut Malaysia telah mencegat sebuah kapal selundupan di kawasan pulau Langkawi pada Senin (8/6) kemarin.

Dalam keterangannya, pihak berwenang Malaysia menjelaskan bahwa kapal mengangkut ratusan pengungsi Rohingya. Tidak hanya itu, petugas juga disebutkan berhasil menemukan mayat seorang wanita di dalam kapal.

Menindaklanjuti temuan ini, pihak berwenang akhirnya resmi menahan 269 pengungsi Rohingya.

Sebagaimana dilansir dari South China Morning Post, selama proses pencegatan kapal, para petugas marinir memang berhasil menghentikan kapal yang ditumpangi oleh para pengungsi Rohingya. Namun, saat hendak dikembalikan ke lautan, kapal disebutkan sudah dalam keadaan rusak.

Karena inilah, pihak berwenang juga menduga bahwa sebelum dicegat, kapal sengaja dirusak lantaran mesin kapal sudah tidak bisa diperbaiki oleh petugas.

Selain itu, selama proses penangkapan, 53 orang sempat melompat dari kapal dan mencoba berenang ke daratan. Namun, pada akhirnya, petugas berhasil membekuk ke-53 pengungsi yang melarikan diri.

Sementara, 216 sisanya langsung ditahan ketika masih berada di dalam kapal.

Sedangkan, mayat wanita yang ditemukan di dalam kapal hingga kini belum dikonfirmasi identitas atau penyebab kematian oleh pihak berwenang.

"Para pengungsi diberi makan dan ditempatkan di fasilitas penahanan sementara, sementara mayat telah diserahkan kepada polisi untuk diselidiki," terang Satuan Tugas Nasional Malaysia.

Kemudian, meski petugas telah mengumumkan penangkapan ini, tetapi media belum mendapatkan rincian pasti terkait dengan sejumlah informasi penting lain, seperti berapa lama pengungsi Rohingya berada di lautan hingga dari mana mereka berlabuh.

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar karena tindakan keras militer dan banyak yang tinggal di kamp-kamp pengungsi yang padat di Bangladesh.

Malaysia yang didominasi umat Muslim pun telah menjadi salah satu negara utama yang biasa dituju oleh para penyelundup Rohingya.

Gugus Tugas Nasional bahkan menjelaskan bahwa pihaknya telah menahan setidaknya 396 orang yang berusaha menyelinap ke Malaysia secara ilegal sejak Mei lalu.

Bersama ratusan imigran ilegal tersebut, petugas juga disebutkan ikut mengamankan 108 kapten kapal serta 11 tersangka pelaku penyelundupan.

Terlepas dari berita penangkapan pengungsi Rohingya ini, Malaysia telah dihadapkan pada ratusan kasus baru infeksi COVID-19 di pusat-pusat penahanan imigrasi. Sejak bulan lalu, jumlah yang dilaporkan bahkan mencapai lebih dari 700 kasus infeksi di kalangan para imigran.

Selain itu, Malaysia juga diketahui menghadapi pekerjaan rumah lain terkait dengan para migran. Pasalnya, selain dijadikan target bagi para pengungsi Rohingya, jumlah migran yang tidak memiliki status hukum disebutkan mencapai hingga lebih dari 2 juta orang.[]