Ekonomi

Malaysia Kedatangan TKI untuk Sektor Sawit, Masih Butuh 1 Juta Pekerja Lagi

Indonesia bulan lalu melarang sekitar 150 pekerja perkebunan pergi ke Malaysia karena perekrut tidak mengikuti prosedur emigrasi yang tepat


Malaysia Kedatangan TKI untuk Sektor Sawit, Masih Butuh 1 Juta Pekerja Lagi
ilustrasi sawit (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Perusahaan sawit ternama di Malaysia, Kulim Bhd pada hari ini Kamis (23/6/2022) mendapatkan pekerja asing pertamanya pasca pandemi.

Hal ini jadi membuka banyak harapan bagi pekerja untuk memasuki Malaysia kembali untuk meringankan krisis ketenagakerjaan yang menghambat produksi dalam beberapa bulan terakhir.

Produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia itu kekurangan setidaknya 1,2 juta pekerja di sektor perkebunan, manufaktur, dan konstruksi, kekurangan yang semakin memburuk setiap hari karena aktivitas ekonomi pulih dari pandemi.

baca juga:

Meskipun membuka kembali perbatasan pada bulan April, Malaysia belum melihat kembalinya pekerja migran secara signifikan karena lambatnya persetujuan pemerintah dan negosiasi yang berlarut-larut dengan Indonesia dan Bangladesh mengenai perlindungan pekerja.

Kelompok pekerja migran Indonesia merupakan yang pertama memasuki Malaysia sejak perbatasan dibuka kembali, dan telah lama ditunggu oleh para pengusaha perkebunan kelapa sawit yang bergulat dengan produksi yang lebih rendah dan kekurangan lebih dari 100.000 pekerja.

" Setelah dua tahun pandemi, kami sekarang dapat mengharapkan lebih banyak pekerja datang sambil mengikuti proses dan prosedur yang ketat," kata Chief Operating Officer Kulim Fairuz Ismail dalam menanggapi pertanyaan Reuters.

Dilain pihak, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia yang dihubungi oleh Reuters, Pak Hermono, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menyetujui permintaan untuk 4.699 pekerja untuk sektor perkebunan saja dan akan banyak datang ke Malaysia pada bulan ini.

Indonesia bulan lalu melarang sekitar 150 pekerja perkebunan pergi ke Malaysia karena perekrut tidak mengikuti prosedur emigrasi yang tepat dan sebagian besar pekerja tidak memiliki visa yang tepat.

Kementerian sumber daya manusia Malaysia tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sumber: Channel News Asia, Reuters