News

Malaysia di Ujung Tanduk, Nakes Ancam Mogok Massal saat COVID-19 Masih Merajalela

Memegang peran kunci dalam penanganan COVID-19, para nakes Malaysia justru bekerja dengan sistem kontrak.


Malaysia di Ujung Tanduk, Nakes Ancam Mogok Massal saat COVID-19 Masih Merajalela
Memegang peran kunci dalam penanganan COVID-19, para nakes Malaysia justru bekerja dengan sistem kontrak. (Malaysia Kini)

AKURAT.CO, Malaysia kini sedang tertekan akibat lonjakan infeksi COVID-19 yang tak kunjung mereda, ketidakstabilan politik, dan lockdown di tengah memburuknya angka kematian. Tak sampai di situ, para tenaga kesehatan (nakes) yang terlalu banyak bekerja memutuskan mogok massal.

Dilansir dari Al Jazeera, Negeri Jiran melaporkan rekor 17.045 kasus dan 92 kematian pada Minggu (25/7). Sekitar 62 persen kasusnya berada di Lembah Klang, yang meliputi ibu kota Kuala Lumpur dan sekitar negara bagian Selangor.

Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial telah dibanjiri dengan foto dan video menyedihkan terkait sistem rumah sakit yang berada di ujung tanduk. Salah satu video menunjukkan mayat-mayat disimpan di ruangan yang tampak seperti gudang rumah sakit. Sementara itu, bangsal sekitarnya sangat penuh. Para pasien duduk di kursi roda atau di bangku yang dipindahkan dari koridor di luar.

Dokumentasi lainnya menunjukkan orang-orang mengantre berjam-jam di pusat penilaian COVID-19 setelah hasil tesnya positif COVID-19. Fasilitas karantina yang dikelola pemerintah pun penuh sesak dan kumuh. Awalnya, pusat tersebut untuk pasien tanpa gejala atau yang berpenyakit ringan. Kini, tempat itu merawat mereka yang kondisinya jauh lebih buruk.

Di tengah banyaknya kekecewaan rakyat, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin membuka sidang 'khusus' parlemen, menyusul status darurat COVID-19 akan berakhir pada 1 Agustus. Muhyiddin dan para menterinya, termasuk yang bertanggung jawab atas ekonomi dan vaksinasi, akan memberi pengarahan singkat kepada parlemen tentang penanganan COVID-19 dan 'rencana pemulihan nasional' 4 tahap. Anggota parlemen pun akhirnya punya kesempatan untuk menanyai kabinet tentang kebijakan mereka.

Saat parlemen bersidang, ratusan dokter junior keluar dari pekerjaan mereka akibat gaji dan tuntutan kerja. Memegang peran kunci dalam penanganan COVID-19, para nakes justru bekerja dengan sistem kontrak. Akibatnya, mereka tak punya kesempatan untuk spesialisasi yang diperlukan guna memajukan karier mereka.

Menjelang aksi, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Dr Noor Hisham Abdullah mendesak mereka agar tidak ikut mogok massal. Ia juga mengingatkan sumpah mereka untuk 'tidak menyakiti atau tidak adil' kepada pasien mereka.

"Ingat, banyak nyawa dipertaruhkan dan demonstrasi dapat mempengaruhi kehidupan mereka, bahkan karier Anda," tulisnya di Facebook.

Di sisi lain, Dr Mustapha Kamal Aziz membeberkan kalau dokter junior telah bekerja selama 36 jam per shift. Mereka juga harus menggantikan rekan-rekan yang tertular virus dan harus isolasi mandiri.

"Kami kehabisan tenaga dan kelelahan," ungkapnya.

Ketidakpastian yang terus berlanjut itu pun akan semakin menguras otak, sehingga para nakes memilih bekerja di tempat lain.

Pemogokan ini diadakan secara anonim setelah keluhan dokter kontrak tidak diselesaikan.

Menurut laporan media lokal, para dokter mengenakan baju hitam dan berjalan keluar dari rumah sakit umum di seluruh negeri. Polisi di sejumlah tempat pun memerintahkan mereka untuk bubar. Polisi mengatakan akan menyelidiki beberapa peserta pemogokan.

Sistem kontrak diperkenalkan pada 2016 oleh pemerintah sebelumnya. Nakes pun diwajibkan bekerja dalam pelayanan publik untuk 5 tahun pertamanya. Langkah ini seharusnya menjadi solusi sementara untuk memastikan nakes agar bisa mendapatkan penempatan lebih cepat.

Pemerintah pekan lalu menawarkan perpanjangan 2 tahun untuk kontrak dokter junior, sambil menyelesaikan masalah habis kontrak dengan mempekerjakan mereka secara permanen. Mereka juga akan diizinkan untuk melanjutkan studi.

Namun, menurut Dr Kamal, tawaran itu tidak cukup, apalagi hanya sekadar pengumuman pernyataan pers.

"Pemogokan ini simbolis untuk menunjukkan bahwa kami serius," pungkasnya.

Ia pun berjanji tak akan membahayakan pasien. []