Lifestyle

Malam Berinai di Jambi, Tradisi Untuk Melindungi Calon Pengantin Wanita dari Godaan

Di Jambi, malam berinai dilakukan sebelum hari pernikahan, tepatnya setelah sholat Isya, di kediaman calon mempelai wanita.


Malam Berinai di Jambi, Tradisi Untuk Melindungi Calon Pengantin Wanita dari Godaan
Malam Berinai di Jambi (seringjalan.com)

AKURAT.CO, Setiap suku di Indonesia memiliki tradisi pernikahan yang unik. Salah satunya adalah malam berinai dari Jambi. Tradisi ini dilakukan sebelum hari pernikahan, tepatnya setelah sholat Isya, di kediaman calon mempelai wanita.

Calon mempelai perempuan akan diberi inai atau dikenal dengan pewarna kuku, kemudian ditepungtawari. Hiasan inai sendiri dianggap sebagai penanda berakhirnya masa lajang. Sedangkan untuk mempelai pria, tidak diberlakukan upacara malam berinai. Selain di masyarakat Jambi, di suku Minangkabau juga terdapat tradisi yang hampir sama yaitu Malam Bainai. 

Setelah itu, terdapat pertunjukan Tari Inai yang merupakan acara pokok dari upacara adat ini.Tari inai adalah tarian tradisonal Jambi lebih tepatnya berasal dari daerah Kuala Jambi Desa Teluk Majelis.

Malam Berinai di Jambi, Tradisi Untuk Melindungi Calon Pengantin Wanita dari Godaan - Foto 1
Tari Ina pariwisataindonesia.id

Menurut sejarah, Tari Inai berguna untuk menjaga calon mempelai wanita dari gangguan manusia ataupun makhluk halus. Oleh sebab itu, pada zaman dulu, tarian ini dibawakan oleh pendekar yang menguasai minimal lima hingga 10 jurus pencak silat. Pasalnya, dia harus mampu melindungi dirinya dan acara pernikahan. 

Meski tak lagi dibawakan oleh pendekar, Tari Inai umumnya dibawakan oleh kaum laki-laki secara berpasangan atau tunggal. Mereka menampilkan gerakan silat yang diperhalus berupa pukul, tangkis, maupun menjatuhkan. Sedangkan untuk pola lantai, bebas dan bervariasi. Gerakan demi gerakan ini diiringi dengan musik yang berasal dari akordion, biola, dan gendang ronggeng. 

Penari memakai pakaian adat khas Melayu berupa baju gunting cina atau kecak musang, dan celana longgar. Dilengkapi dengan peci, serta kain sarung atau songket untuk dililitkan di pinggang bagian atas lutut. Beberapa properti seperti lilin juga kerap digunakan untuk melengkapi penampilan.

Yang menarik, penari Tari Inai sangat jarang dibayar dengan uang. Umumnya, mereka diberikan ucapan terima kasih berupa nasi manis dan telur merah. Adapun Tari Inai sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tari Inai juga ada di daerah-daerah Melayu lainnya, namun terdapat perbedaan dalam ragam, gerak, hingga perlengkapan yang digunakan.[]