News

Malala Yousafzai Bertemu Menlu AS, Desak Bantu Perempuan Afganistan agar Bisa Sekolah Lagi

Aktivis Pakistan untuk kesetaraan perempuan ini pernah menjadi sasaran upaya pembunuhan Taliban.


Malala Yousafzai Bertemu Menlu AS, Desak Bantu Perempuan Afganistan agar Bisa Sekolah Lagi
Malala Yousafzai bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken pada Senin (6/12). (CNN)

AKURAT.CO, Peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pada Senin (6/12). Ia meminta AS untuk bertindak demi memastikan wanita dan anak perempuan Afganistan dapat kembali bersekolah dan bekerja usai negara tersebut diambil alih Taliban.

Dilansir dari CNN, aktivis Pakistan untuk kesetaraan perempuan ini selamat dari upaya pembunuhan Taliban. Ia datang ke Kementerian Luar Negeri AS untuk mendiskusikan kesetaraan dalam pendidikan anak perempuan.

Sebelum memulai pertemuan tertutup itu, Yousafzai mencatat kalau Afganistan saat ini menjadi satu-satunya negara di mana anak perempuan tak bisa mengakses pendidikan menengah.

"Mereka dilarang belajar. Saya pernah bekerja sama dengan gadis-gadis Afganistan dan para aktivis perempuan. Ada satu pesan dari mereka: mereka harus diberi hak untuk bekerja. Mereka harus bisa sekolah," ungkapnya.

Pesannya itu ditekankan saat membacakan surat yang ditujukan kepada Presiden Joe Biden dari seorang gadis Afganistan berusia 15 tahun bernama Sotodah.

Malala Yousafzai Bertemua Menlu AS, Desak Bantu Perempuan Afganistan agar Bisa Sekolah Lagi - Foto 1
CNN

"Ia menulis kalau semakin lama sekolah dan universitas tetap ditutup untuk anak perempuan, semakin pupus harapan untuk masa depan kita. Pendidikan anak perempuan adalah alat yang ampuh untuk membawa perdamaian dan keamanan. Jika anak perempuan tak belajar, Afganistan juga akan menderita," baca Yousafzai.

Sejak merebut kekuasaan di Afganistan pada Agustus, Taliban telah memperketat pembatasan pada akses anak perempuan ke pendidikan dan melarang wanita dari tempat kerja tertentu. Mereka merilis 'dekrit tentang hak-hak perempuan' yang menetapkan aturan pernikahan dan warisan bagi wanita, tetapi tak membahas masalah pekerjaan maupun pendidikan.

Afganistan juga telah jatuh ke dalam krisis kemanusiaan dan ekonomi. Banyak pejabat pemerintah, tenaga kesehatan, dan pendidik tak digaji lantaran negara asing dan lembaga keuangan tak mau mengucurkan dananya kepada pemerintah Taliban.

"Kami berharap AS, bersama PBB, akan bertindak segera untuk memastikan anak perempuan diizinkan kembali sekolah secepat mungkin, perempuan dapat kembali bekerja, dan seluruh bantuan kemanusiaan yang diperlukan untuk pendidikan di sana tersedia. Kami tahu ini menantang dan kami ingin fokusnya diberikan lebih untuk pendidikan, gaji guru, karena inilah yang menghalangi sekolah berjalan," sambungnya.

Sementara itu, Blinken menyebut Yousafzai sebagai inspirasi.

"Saya sangat menanti kesempatan berbicara dengannya tentang pekerjaan yang ia lakukan, pekerjaan yang sedang kami garap, dan mendengar ide-idenya soal bagaimana kami bisa lebih efektif dalam memastikan wanita dan anak perempuan memiliki akses ke pendidikan," tutur Blinken. []