News

Majelis PBB Panas! Rusia 'Ngeyel' Benarkan Invansinya ke Ukraina, AS dan Negara Lain Kecam Pelanggaran Perang 

Sesi khusus Majelis PBB berjalan dengan panas saat Moskow memberi pidato membela 'operasi militer' di Ukraina


Majelis PBB Panas! Rusia 'Ngeyel' Benarkan Invansinya ke Ukraina, AS dan Negara Lain Kecam Pelanggaran Perang 
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov hanya menghadiri sesi khusus Dewan Keamanan tentang Ukraina untuk menyampaikan pidatonya (Reuters)

AKURAT.CO, Sesi khusus Majelis PBB berjalan dengan panas saat Moskow memberi pidato membela 'operasi militer' di negara tetangganya, Ukraina. 

Kremlin melalui Menteri Luar Negerinya, Sergey Lavrov telah membela tindakan negaranya dalam perang yang kini telah berlangsung selama tujuh bulan. Sementara para pemimpin dunia lainnya menanggapi dengan keras, mendesak  pertanggungjawaban Rusia atas pelanggaran hak asasi manusia di Ukraina.

Selama pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB, Lavrov buka suara tentang laporan dugaan kekejaman Rusia di perang Ukraina. Namun, saat berbicara pada Kamis (22/9), alih-alih mengacu pada rincian laporan, Lavrov justru menyerang Ukraina, menuduh negara itu menciptakan ancaman terhadap keamanan Rusia. Pejabat Kremlin itu juga mengatakan bahwa tetangganya tersebut telah 'berani menginjak-injak' hak-hak orang Rusia dan penutur bahasa Rusia di Ukraina.

baca juga:

“Saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami tidak akan pernah menerima ini,” kata Lavrov, yang hanya duduk di ruang dewan untuk pidatonya sendiri. 

“Semua yang saya katakan hari ini hanya menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan operasi militer khusus tidak dapat dihindarkan.”

Ukraina telah mendominasi diskusi di PBB, di mana para pemimpin dunia berkumpul untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19.

Sesi khusus DK PBB berlangsung hanya sehari usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi segera atas pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina. Sebagaimana dilaporkan sebelumnya bahwa Putin memerintahkan lebih dari 300 ribu pasukan cadangan (bukan wajib militer) untuk menghajar pasukan Ukraina.

Pidato Kremlin tersebut telah memicu demonstrasi besar-besaran di Rusia, dengan 1.300 orang lebih ditangkap paksa aparat, menurut kelompok independen negara itu.

Sementara Putin belum memberi sinyal untuk menyetop invansi, perang telah menewaskan ribuan orang, membuat jutaan orang terlantar, menghancurkan kota-kota dan merusak ekonomi global.