News

Mahfud Minta Hasil Perhitungan Pilkada 2020 Terbuka ke Media Massa

Mahfud mengatakan, Indonesia adalah negara demokrasi.


Mahfud Minta Hasil Perhitungan Pilkada 2020 Terbuka ke Media Massa
Menkopolhukam Mahfud MD usai menghadiri acara peringatan sewindu UUK DIY di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin (31/8/2020). (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD meminta hasil perhitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 terbuka ke media masa.

"Di sini agar tidak terjadi keributan saya minta agar dibuka akses ke media massa, di buka akses ke pemantau, dibuka akses ke quick count, buka saja yang penting tertib dijaga itu agar kita tidak dianggap tertutup," ujar Mahfud dalam konfrensi pers yang disiarkan virtual, Rabu (9/12/2020).

Mahfud mengatakan, Indonesia adalah negara demokrasi. Karenanya, upaya menimbulkan berbagai kerusuhan maka hasil dari perhitungan suara harus disampaikan.

"Pokoknya terbuka aja kalau ada yang diberitakan, diberitakan saja gitu itu biasa ini negara demokrasi jadi agar tidak timbul berbagai kerusuhan buka akses jangan misalnya mengusir wartawan apalagi lalu dilakukan kekerasan dipukul," jelasnya.

"Terbuka kan memang diaturannya, di hitungnya secara terbuka kemudian tahapannya terbuka kecuali pilihan, itu rahasia bagi masing-masing," imbuhnya.

Mahfud menegaskan, hasil perhitungan Pilkada 2020 tidak bisa dimain-mainkan. Informasi itu bisa dijadikan berupa berita dengan menggunakan data yang akurat.

"Memang ada berita hoaks, tapi kita bicara data. Ketika berita berbunyi, apa datanya seperti apa, yang tidak bisa dihindari bahwa kita akan menentukan keberhasilan atau kegagalan itu berdasar informasi dan olah data yang dari informasi itu, karena informasi itu tidakselalu menjadi data," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Mahfud mengungkapkan untuk gugatan di MK sebagian ada yang sekadar coba-coba. Ia menyinggung, jika terdapat calon yang kalah. Namun, masih mencoba dengan cara menggugat ke MK.

"Ada yang sekadar coba-coba aja, sudah tahu kalah, siapa tahu bisa menghubungi hakim, siapa tahu bisa menang siapa tahu bisa dapat memalsukan data-data yang mengecoh dan sebagainya, itu coba-coba tapi memang ada satu daerah atau satu kawasan daerah tertentu yang pokoknya siapa pun yang menang dilawan meskipun tahu kalah," singgungnya.[]