News

Mahfud MD Beberkan 2 Kelompok Keresahan Masyarakat di Tengah Pandemi Tak Menentu

Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan, keresahan itu muncul dalam dua kelompok.


Mahfud MD Beberkan 2 Kelompok Keresahan Masyarakat di Tengah Pandemi Tak Menentu
Menkopolhukam Mahfud MD saat konferensi pers usai acara Refleksi dan Proyeksi Pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Hotel Melia Purosani, Kota Yogyakarta, Senin (14/12/2020). Fotografer AKURAT.CO/Kumoro Damarjati (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, pemerintah menyadari adanya keresahan sosial sebagai akibat dari adanya Covid-19. Masyarakat, ketakutan dengan masa depan mereka akibat kasus Covid-19 dalam negeri yang tak menentu. 

Keresahan dan ketakutan masyarakat itu bahkan mereka bicarakan dalam rapat tim Polhukam yang melibatkan berbagai unsur. Seperti Menkopolhukam, Mendagri, Menlu, Menkominfo, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan KSP. 

"Pemerintah menyadari dan mencatat adanya semacam ketakutan atau keresahan di tengah-tengah masyarakat berkenaan dengan Covid-19 yang trennya terus tidak menentu," katanya dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube Kemenkopolhukam, Jakarta, Sabtu (24/7/2021). 

Dia mengatakan, keresahan itu muncul dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang ketakutan akan mati karena Covid-19. Kelompok kedua yakni kelompok yang takut ketakutan mati akibat perekonomiannya tak berjalan. 

"Kalau kita bersembunyi dari Covid-19, bisa mati karena ekonomi. Kalau kita melakukan kegiatan ekonomi, bisa jadi mati karena Covid-19. Itu dilema," katanya. 

Dia mengatakan, pemerintah menjadikan itu sebagai catatan penting. Bahwa ada ketakutan di masyarakat. Karenanya, pemerintah terus mengikutinya dari waktu ke waktu. 

Tetapi, kata dia, yang terpenting adalah ketakutan itu harus dihadapi bersama. Caranya adalah dengan bekerjasama antar elemen bangsa. 

"Tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh kampus, akademisi, tokoh adat harus kerja sama karena (Covid-19) ini satu musuh bersama," katanya.

Selain itu, kata Mahfud, ada kontroversi dan resistensi pembatasan kegiatan atau aktivitas masyarakat. Adapun hasil studi Kementerian Luar Negeri memetakan respons masyarakat terhadap kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat.