News

Mahasiswi Afganistan Diizinkan Kembali Kuliah, Syarat dan Ketentuan Berlaku

Belum jelas apakah wanita dapat diajar oleh dosen pria atau berinteraksi dengan mahasiswa lelaki di luar kelas.


Mahasiswi Afganistan Diizinkan Kembali Kuliah, Syarat dan Ketentuan Berlaku
Mahasiswi Afganistan telah diizinkan menghadiri kuliah dengan syarat dipisahkan dari mahasiswa lelaki. (AFP)

AKURAT.CO, Universitas negeri di Afganistan dibuka pada Rabu (2/2). Mahasiswi pun diizinkan kembali kuliah untuk pertama kalinya sejak Taliban mengambil alih kekuasaan tahun lalu.

Dilansir dari CNN, pemerintah Taliban belum secara resmi mengumumkan rencananya untuk mahasiswi. Namun, menurut otoritas pendidikan, perempuan diizinkan menghadiri kuliah dengan syarat dipisahkan dari mahasiswa lelaki.

Hal ini senada dengan keterangan kepala Universitas Nangarhar, Khalil Ahmad Bihsudwal. Menurutnya, mahasiswa dan mahasiswi di isntitusi tersebut akan menghadiri kuliah di kelas terpisah.

baca juga:

Seorang mahasiswi kedokteran yang enggan disebutkan namanya pun mengungkapkan bahwa perkuliahan telah dibagi berdasarkan jenis kelamin. Namun, tak jelas apakah wanita dapat diajar oleh dosen pria atau berinteraksi dengan mahasiswa lelaki di luar kelas.

"Hanya jadwal kuliah kami yang dipisahkan. Namun, kami diberi tahu agar tak berjalan di sekitar kampus sampai giliran lelaki selesai. Meski ada perubahan dan ketentuan, saya tetap ingin melanjutkan karena takut pendidikan saya tak bisa selesai," ungkapnya.

Taliban telah melarang wanita dan anak perempuan mengenyam pendidikan saat berkuasa pada 1996-2002. Namun, untuk pemerintahan barunya saat ini, rencana pendidikan wanita dan anak perempuan masih belum jelas.

Sebagian universitas swasta telah dibuka kembali. Namun, banyak kasus mahasiswi tak dapat kembali berkuliah. Sementara itu, di banyak provinsi, anak perempuan masih belum diizinkan untuk kembali ke sekolah menengah.

Menurut Bilal Karimi, wakil juru bicara Taliban, Kementerian Pendidikan Afganistan sedang menggarap rencana untuk memulai kembali pendidikan menengah bagi anak perempuan untuk tahun ajaran baru pada 21 Maret. Taliban pun membantah klaim bahwa gadis-gadis Afganistan akan dilarang dari sekolah menengah. Mereka berdalih perlu menyiapkan sistem transportasi yang aman bagi para siswi sebelum mengizinkan mereka kembali masuk sekolah.

Komunitas internasional pun telah menjadikan pendidikan wanita dan anak perempuan sebagai syarat penting bagi Taliban untuk mendapatkan lebih banyak bantuan asing dan pencairan aset luar negeri. Tak ayal, PBB memuji pada Selasa (1/2) malam atas masuknya kembali para mahasiswi di universitas negeri.

"Mari kita semua mendukung kembalinya mahasiswi dan mahasiswa Afganistan ke universitas di seluruh Afganistan. Pendukung dapat mempertimbangkan berbagai program beasiswa dan dukungan berkelanjutan untuk profesor wanita dan pria," twit Deborah Lyons, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afganistan. []