Tech

Mahasiswa ITS Rancang Sistem Pengolahan Limbah Cair Peternakan Berbasis IoT

Sistem pengolahan limbah ini diyakini memiliki tingkat keefektifan 99.98


Mahasiswa ITS Rancang Sistem Pengolahan Limbah Cair Peternakan Berbasis IoT
Skema pengolahan limbah cair dari peternakan sapi yang dirancang oleh tim mahasiswa ITS. (its.ac.id)

AKURAT.CO  Sebagai upaya untuk mengatasi pencemaran air, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sebuah sistem pengolahan limbah cair pada peternakan sapi perah agar tidak mencemari air di sekitarnya.

Menurut ketua tim, Nabiilah Aziizh Tjandra, masih ada sejumlah peternak sapi perah yang belum bisa mengelola limbah dengan baik.

Ia mencontohkan di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali yang merupakan daerah dengan komoditas peternakan yang melimpah.

baca juga:

Di sana  sebanyak 56,67 persen peternak sapi perahnya masih membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan. 

"Hal ini terjadi karena sebagian besar adalah peternakan konvensional, sehingga tidak mempunyai sistem pengelolaan limbah," ujar Nabiilah, melansir dari laman ITS, Jumat (27/5).

Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui kualitas air sungai memiliki angka melebihi ambang baku mutu air limbah yang diperbolehkan, yaitu Chemical Oxygen Demand (COD) 20 – 80 miligram per liter dan Total Suspended Solid (TSS) yang mencapai 64 – 94 miligram per liter.

Oleh karena itu, menurutnya dibutuhkan sebuah sistem pengolahan air limbah yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan.

Berawal dari hal ini, Nabiilah bersama tim merancang instalasi pengolahan air limbah menggunakan membran bioreaktor yang diintegrasikan dengan Internet of Things (IoT) untuk memudahkan peternak. 

"Membran bioreaktor dipilih karena telah terbukti efektif memperbaiki baku mutu luaran limbah olahanya," jelas Nabiilah.

Pada sistem instalasi yang dirancang timnya, Nabiilah menerangkan, air limbah dari hasil peternakan akan memasuki penampungan sebelum dilewatkan membran bioreaktor untuk difiltrasi. 

Selain itu, sistem juga dilengkapi dengan sensor untuk memastikan kualitas luaran limbah sesuai dengan standar baku mutu, yaitu kurang dari 50 miligram per liter. Dengan begitu, ketika kualitas belum terpenuhi, air limbah akan difiltrasi kembali memasuki membran bioreaktor.

Tidak hanya itu, sistem pengolahan air limbah rancangan Nabiilah dan tim dilengkapi dengan sensor yang akan mendeteksi adanya cake fouling akibat impurities yang terperangkap. 

"Cake fouling ini mengakibatkan proses filtrasi menjadi tidak efisien, sehingga membran harus dibersihkan dari cake tersebut. Dengan adanya sensor ini, peternak akan mengetahui kapan membran harus dibersihkan," terang Nabiilah.

Selain Nabiilah, tim ini juga beranggotakan dua mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS lainnya, yaitu Akbar Krisna Wandana dan Ahmad Prayoga. Mereka meyakini bahwa sistem pengolahan limbah cair buatannya mempunyai tingkat keefektifan sebesar 99.98 persen dalam memfiltrasi kandungan kimia berbahaya. 

"Ke depan, harapannya, inovasi kami dapat segera terealisasi sehingga dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat," pungkas Nabiilah.