Ekonomi

Luhut Ungkap Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia Masih Dangkal, Kalah dengan Tetangga

Data Bank Dunia menunjukkan kapitalisasi pasar Indonesia pada tahun 2020 sebesar 47 persen PDB


Luhut Ungkap Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia Masih Dangkal, Kalah dengan Tetangga
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan kala meninjau vaksinasi massal di Gedung Setda Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (6/8/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan saat ini tingkat pendalaman keuangan Indonesia (financial deepening) memang relatif masih dangkal.

Pendalaman keuangan masyarakat Indonesia lebih rendah dibanding negara kawasan dan emerging market lainnya. Data Bank Dunia menunjukkan kapitalisasi pasar Indonesia pada tahun 2020 sebesar 47 persen PDB, dibawah Emerging Market seperti India (99%) dan Malaysia (130%). 

Oleh sebab itu, berbagai inisiatif untuk mengakselerasi pengembangan dan pendalaman pasar keuangan perlu terus diupayakan.

“Namun upaya yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan beberapa capaian yang patut dibanggakan, terutama di tengah tantangan COVID-19," kata Luhut saat menghadiri Capital Market Summit & Expo 2021 (CMSE 2021), Kamis (14/10/2021).

Dari awal tahun sampai dengan 8 Oktober 2021, jumlah pencatatan baru saham atau new listing mencapai 38 perusahaan, ditambah jumlah calon perusahaan tercatat yang sedang mengantre atau sedang dalam pipeline sebanyak 25 calon perusahaan tercatat.

"Angka pencatatan baru saham ini juga merupakan yang tertinggi di ASEAN, serta masuk dalam urutan ke-12 di dunia,” ujarnya.

Pada periode Januari hingga 8 Oktober 2021, rata-rata frekuensi mencapai 1.288.927 kali, meningkat 90 persen dibandingkan sepanjang 2020.

Data frekuensi harian sejak awal tahun 2021 juga terus-menerus mencatatkan rekor terbesar sepanjang sejarah dengan yang terbaru mencapai 2.141.575 pada 9 Agustus 2021. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi di BEI merupakan yang tertinggi di antara Bursa Efek kawasan ASEAN sejak tahun 2018.

“Dari sisi permintaan, jumlah investor yang meliputi investor saham, reksadana, dan obligasi di Pasar Modal sampai dengan 30 September 2021 jumlahnya mencapai 6,43 juta investor, meningkat 66 persen dibandingkan akhir akhir tahun 2020, atau hampir naik lima kali lipat sejak tahun 2017,” ujar Menko Luhut.