News

Luhut Sentil Kota Solo Banyak Warganya Wafat Akibat Covid-19

Luhut Binsar Pandjaitan menyentil daerah yang dipimpin Gibran Rakabuming Raka.


Luhut Sentil Kota Solo Banyak Warganya Wafat Akibat Covid-19
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, saat bekerja di rumah (Instagram/luhut.pandjaitan)

AKURAT.CO, Koordinator PPKM level 4 yang juga Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyentil daerah yang dipimpin Gibran Rakabuming Raka yakni Kota Solo sebagai salah satu daerah yang butuh perhatian khusus akibat tingginya kasus kematian akibat Covid-19.

Kota Solo tak sendirian. Sebab faktanya ada juga daerah-daerah lain yang kasus kematian akibat Covid-19 tinggi. 

Luhut mengatakan, daerah-daerah tersebut kini diintervensi oleh pemerintah pusat untuk menekan kasus konfirmasi, perkembangan rata-rata kasus atau positifity rate, dan peningkatan kasus kematian.

 "Ada beberapa daerah yang membutuhkan perhatian khusus. Karena masih tingginya kasus terkonfirmasi, positifity rate dan juga kematian warganya. Seperti Bali, Malang Raya, DIY, dan Solo Raya. Tapi ini semua daerah sudah kami tangani dan kita mestinya melihat minggu ini akan membaik. Karena juga kemaren atau tadi angka sudah mulai sedikit membaik," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (2/8/2021).  

Dia mengatakan, tingginya kenaikan seluruh indikator Covid-19 di daerah-daerah tersebut terjadi karena warga yang memilih melakukan isolasi mandiri (Isoman). Sehingga saat keadaan memburuk selama Isoman, warga yang terpapar Covid-19 baru dibawa ke RS. 

"Hal ini terjadi karena mash banyak masyarakat yang melalukan isolasi mandiri sehingga telat dilakukan perawatan intensif di RS (rumah sakit) yang mengakibatkan kematian karena saturasi oksigen mereka rata-rata di bawah 90," katanya. 

Sebelumnya diberitakan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab tingginya kasus kematian akibat Covid-19 di Rumah Sakit (RS). Dia mengatakan, tingginya kasus kematian terjadi karena pasien Covid-19 terlambat membawa pasien ke RS. Saat dibawa ke RS, pasien sudah dalam kondisi penurunan saturasi oksigen. 

"Kita heran. Kok di IGD kenapa jadi banyak yang wafat. Atau masuk IGD pun sudah wafat. Itu (wafat sebelum masuk IGD) lebih tinggi lagi kalau kita masukan data yang masuk RS sudah wafat. Ternyata kita liat fakta berikutnya adalah orang itu masuk RS saturasinya masih 93.92.90. Sekarang oh masuk RS saturasinya sudah 70 udah 80. Itu udh telat sekali," katanya dalam konferensi pers usai rapat terbatas (Ratas) bersama Presiden Jokowi, Senin (2/8/2021).[]