Rahmah

Awalnya Diremehkan, Namun Akhirnya Abu Nawas Bikin Penonton Terkesima, Begini Kronologinya

Suatu hari, ada seorang yang ingin beradu ketangkasan dengan si cerdik Abu Nawas.


Awalnya Diremehkan, Namun Akhirnya Abu Nawas Bikin Penonton Terkesima, Begini Kronologinya
Ilustrasi Abu Nawas (pinterest.com)

AKURAT.CO  Seperti biasa, setiap Minggu pagi, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid selalu menyempatkan waktu untuk berburu bersama dengan pengurus kerajaan. Namun pada pagi itu, belum juga Baginda sampai di hutan, ditengah-tengah perjalanan, Baginda Raja Harun dan pengawalnya tiba-tiba kedatangan salah seorang pejabat kerajaan bernama Abu Jahil .

"Baginda… Baginda…. hamba mau mengusulkan sesuatu,” kata Jahil.

“Apa yang hendak engkau usulkan, wahai Abu Jahil?" tanya Baginda Raja.

“Saya usul, bagaimana agar acara berburu ini menarik dan mendapat animo dari masyarakat, perlu diadakan sayembarakan saja?” ujar Abu Jahil dengan raut wajah serius.

Usut punya usut, ternyata usulan itu diterima. Baginda Raja sejenak terdiam kemudian menganggukkan kepalanya. Baginda Raja berpikir sayembara ini akan memberikan hiburan kepada masyarakat.

“Jadi begini, Baginda yang mulia, hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abu Nawas. Kemudian pemenangnya akan mendapatkan sepundi uang emas. Sedangkan yang kalah, akan mendapat hukuman yaitu memandikan kuda-kuda istana selama 1 bulan,” tutur Abu Jahil.

Karena usulan itu sudah disepakati, Abu Nawas kemudian dipanggil untuk menghadap Baginda. Setelah menghadap, Abu Nawas segera diberi petunjuk sayembara tersebut.

Sebenarnya, dalam hati Abu Nawas menolak sayembara tersebut, karena ia tahu semua ini hanya akal-akalan  Abu Jahil saja yang ingin menyingkirkannya dari istana. Namun karena ini titah langsung dari Baginda Raja, sehingga Abu Nawas pun tidak bisa menolaknya.

Abu Nawas berpikir sejenak, ia mengetahui jika Abu Jahil telah diangkat menjadi pejabat istana beberapa hari terakhir. Benar saja, tampaknya si Abu Jahil akan mengerahkan semua anak buahnya untuk memberi seekor binatang buruan di hutan nanti.

Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Baginda kemudian menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat sudah tidak sabar, siapa yang akan menjadi pemenang dalam lomba berburu kali ini.

Perlombaan dimulai dengan dibunyikannya terompet kerajaan. Karena tidak mau menyia-nyiakan waktu, Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara. Justru sebaliknya, Abu Nawas dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton menyoraki Abu Nawas.

Tak terasa hari sudah menjelang sore, yang artinya mereka sudah melakukan perburuan selama setengah hari. Tak berselang lama, Abu Jahil dengan kudanya muncul memasuki pintu gerbang istana. Ia pun mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikan aksi gemilangnya itu. 

Terlihat beberapa hewan buruan di sebalah kanan dan kiri kuda Abu Jahil. Abu Jahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya itu di tengah gemuruh antusias penonton yang memadati lokasi.

"Aku, Abu Jahil berhak memenangkan lomba ini. Lihat.. Binatang buruanku sangat banyak. Mana mungkin Abu Nawas dapat mengalahkanku?...” teriaknya lantang yang membuat para penonton semakin menggelegar.

Setelah itu, terdengar suara kaki kuda Abu Nawas. Semua penonton mentertawakan dan meneriakinya karena Abu Nawas tak membawa satu pun binatang buruan di kudanya. Namun Abu Nawas tidak tampak gusar sama sekali. Ia malah tersenyum dan melambaikan tangan kepada penonton yang hadir.

Dengan begitu, Baginda Raja memerintahkan kepada dua orang pengawalnya untuk maju ke tengah lapangan dan menghitung jumlah binatang buruan yang didapatkan mereka. Di kesempatan pertama, dua pengawal menghitung jumlah binatang hasil buruan dari Abu Jahil.

“Abu Jahil mendapat tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan," kata salah satu pengawal.

“Hahaha.. Sudah pasti, akulah pemenangnya karena Abu Nawas tak membawa seekor binatang pun,” teriak Abu Jahil dengan bangganya.

“Jangan salah. Aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan engkau wahai Abu Jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana itu. Di dalam peraturan lomba, semua binatang boleh ditangkap, yang penting kan jumlahnya,” kata Abu Nawas sambil membuka bambu kuning yang telah diisi dengan ribuan semut merah.

“Jumlahnya sangat banyak Baginda, sepertinya mencapai ribuan, kami tak sanggup menghitungnya lagi,” kata pengawal kerajaan yang sedang menghitung jumlah semut hasil buruan Abu Nawas itu.

Karena hasil tersebut, Baginda Raja memutuskan Abu Nawas menjadi pemenang lomba tersebut. Baginda Raja dan para penonton tertawa lebar melihat tingakh lucu Abu Nawas itu. Sementara Abu Jahil hanya bertunduk lemas dan tiba-tiba saja ia pingsan. []