Rahmah

Lucu! Gegara Hal ini, Abu Nawas Harus Rela Tidur Di Luar Tendanya, Kisahnya Bikin Ngakak

Sambil beristirahat, Abu Nawas dan untanya lalu menyantap bekal yang ia bawa dari rumah. Setelah itu, mereka tidur dengan nyenyak di dalam tendanya. 


Lucu! Gegara Hal ini, Abu Nawas Harus Rela Tidur Di Luar Tendanya, Kisahnya Bikin Ngakak
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Abu Nawas bukan hanya dikenal sebagai sosok yang cerdas dan digemari banyak orang. Tetapi dibalik itu semua, ternyata ia merupakan seorang yang gemar memelihara binatang. Di pekarangan rumahnya, terdapat beberapa jenis binatang, mulai dari burung, keledai, ayam dan juga unta.

Diketahui, Abu Nawas memiliki seekor unta yang konon dapat berbicara layaknya manusia. Unta kesayangannya itu, sering diajaknya pergi berjalan-jalan mengelilingi kota.

Hingga pada suatu pagi yang cerah, Abu Nawas pergi mengembara bersama dengan si unta cerdik itu. Tak terasa, ia terus berjalan, dan sampai ke sebuah gurun pasir yang gersang dan sangat panas.

Mengingat perjalanannya yang masih jauh, akhirnya Abu Nawas dan untanya memutuskan untuk berteduh di sebuah tempat. Ketika sampai di tempat itu, ia langsung merebahkan tubuhnya bersama dengan si unta cerdik tersebut. Dan saat itu, terjadi dialog antara Abu Nawas dengan untanya.

"Wahai, tuan! Apakah perjalanan kita masih jauh," si mengawali pembicaraan.

"Benar, perjalanan kita masih jauh. Kita harus melewati dua gurun pasir lagi. Setelah itu, barulah kita tiba di tempat tujuan. Dan dii tempat itu, kita akan mendapat  penginapan yang nyaman," jawab Abu Nawas.

"Baiklah kalau begitu tuan," kata si unta itu sambil menganggukkan kepalanya.

Setelah merasa cukup beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. 

Namun sampai hari sudah mulai gelap, mereka belum juga sampai ke tempat tujuan. Dengan begitu, akhirnya mereka menghentikan perjalanannya kembali. Abu Nawas segera menyiapkan tenda untuk bermalam dan beristirahat.

Abu Nawas dan untanya lalu menyantap bekal yang ia bawa dari rumah. Setelah itu, mereka tidur dengan nyenyak di dalam tendanya. 

Akan tetapi, malang bagi si unta, ia tak diizinkan Abu Nawas tidur di dalam tenda karena tendanya memang sangat kecil. Si unta tersebut, akhirnya merasa kedinginan. Ia berpikir jika harus tidur di luar seperti ini, keesokan harinya, ia akan jatuh sakit dan tidak dapat melanjutkan perjalanan kembali.

Ketika malam semakin larut, si unta membangunkan Abu Nawas dan berkata.

"Wahai tuan, saya sangat kedinginan. Izinkan saya menitipkan ujung kaki saya masuk ke dalam tenda tuan,".

Abu Nawas ternyata tidak merasa berkeberatan. Ia menganggap dengan adanya ujung kaki unta itu, tidak akan mengganggu tidur nyenyaknya.

Namun beberapa saat kemudian, si unta berkata lagi.

"Wahai tuan, saya sangat kedinginan. Izinkan saya memasukkan kaki depan saya ke dalam tenda agar besok saya kuat berjalan membawa tuan di atas punggung saya,"

Tanpa berpikir panjang, Abu Nawas langsung mengizinkan permintaan untanya itu.

Akan tetapi, sesaat kemudian, si unta berkata lagi.

"Wahai tuan, hidung saya mulai berair, besok saya akan sakit dan tidak bisa membawa tuan di atas punggung saya. Kali ini, izinkanlah kepala saya berada di dalam tenda,".

Ternyata, hal itu terus berulang hingga Abu Nawas tidak menyadari jika sekarang ia tidur di luar tenda itu. Sedangkan si unta tidur di dalam tenda. Kali ini, ia yang merasa sangat kedinginan.

Keesokan harinya, ia baru menyadari jika dirinya tidur di luar. Abu Nawas kemudian masuk ke tendanya dan melihat untanya masih tertidur nyenyak. Abu Nawas membangunkan dan bertanya kenapa ia tidur di luar, sedangkan untanya malah tidur di dalam tenda.

"Wahai tuan, saya kan tidak mengusir tuan. Saya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada tuan. Tuan juga mengizinkan anggota tubuh saya masuk ke dalam tenda. Hal itu saya lakukan agar pagi ini saya kuat menggendong tuan di atas punggung saya untuk terus melanjutkan perjalanan," kata si unta itu dengan santainya.

"Hmm ada-ada saja. Engkau memang unta yang cerdik. Aku yang biasa dikenal orang paling cerdik ternyata, masih bisa kalah denganmu," jawab Abu Nawas sambil menggelengkan kepalanya.

"Kan saya murid tuan," kata si unta cerdik itu. []