Tech

LPEM UI : Tantangan Masih Menghadang Kebangkitan Industri Otomotif Nasional

Terdapat beberapa tantangan di depan yang perlu diantisipasi


LPEM UI : Tantangan Masih Menghadang Kebangkitan Industri Otomotif Nasional
Pekerja saat menyelesaikan perakitan mobil di pabrik Dongfeng Honda, Wuhan, Hubei, Tiongkok, Rabu (8/4/2020). Industri otomotif Dongfeng Honda Automobile Co Ltd kembali beroperasi setelah otoritas setempat mengakhiri isolasi Wuhan dari kebijakan lockdown yang diberlakukan sejak Januari lalu. (REUTERS/Aly Song)

AKURAT.CO Industri otomotif nasional menunjukkan indikasi pemulihan dari pandemi. Data dari GAIKINDO mencatatkan kenaikan penjualan ritel mobil secara signifikan, yaitu 600.344 unit pada periode Januari-September 2021, atau naik sekitar 50% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, meskipun masih di bawah tingkat penjualan 2019 dan 2018. 

Bukan hanya domestik, sepanjang 2021 Indonesia telah mengekspor 235 ribu kendaraan utuh (completely built up / CBU), 79 ribu kendaraan secara terurai (completely knock down / CKD), dan 72 juta unit komponen (Gambar 1). Perkembangan ini jauh lebih baik dibandingkan penjualan industri otomotif global yang pada 2021 diperkirakan hanya naik 3,45% dari 2020. 

Meskipun demikian, geliat positif ini tidak boleh membuat pemerintah dan para pelaku usaha berpuas diri. Hal ini disampaikan Dr. Revindo selaku Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha LPEM UI.

Ia menuturkan terdapat beberapa tantangan di depan yang perlu diantisipasi. Pertama, pada Oktober 2021 harga baja dunia telah naik sebesar 57.36% dan harga Aluminium naik 45,65% dari awal tahun. Implikasi dari hal ini tentunya pada kenaikan biaya produksi kendaraan bermotor.

Kedua, terdapat kelangkaan chip (semikonductor) global yang diprediksi masih akan terus berlanjut. Rantai pasok elektronik kewalahan untuk mengikuti lonjakan permintaan yang sebenarnya dipicu naiknya permintaan chip untuk perangkat komputer/laptop dan perangkat jaringan (router/modem) sejak pandem.

Apalagi, produsen chip sempat dihadapkan pada pembatasan sosial sehingga tidak bisa dengan mudah meningkatkan kapasitas produksinya. 

Ketiga, terjadi perubahan selera dan tren pergeseran tekonologi untuk sepenuhnya beralih ke mobil listrik. Kesadaran masyarakat global terhadap perubahan iklim semakin menuntut pergeseran tren teknologi mobil menuju kendaraan listrik. 

Untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut dan menjaga momentum pemulihan industri otomotif nasional, Revindo mengatakan beberapa strategi dapat ditempuh. 

Pertama, setelah munculnya insentif fiskal diskon tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), dari sisi moneter sudah tepat Bank Indonesia melakukan perpanjangan kebijakan Loan-to-Value (LTV) 100%, Down Payment 0% untuk pembiayaan kendaraan bermotor hingga akhir 2022.