Ekonomi

LPEI Bantu Petani Ekspor Biji Kakao Senilai Rp600 Juta ke Belanda

LPE bekerja sama dengan Bea CukaiDenpasar untuk mengekspor 12 ton biji kakao fermentasi organik ke Den Haag, Belanda senilai Rp600 juta secara mandiri.


LPEI Bantu Petani Ekspor Biji Kakao Senilai Rp600 Juta ke Belanda
Desa Nusasari, di Kabupaten Jembrana, Bali, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dikabarkan berhasil menembus pasar kakao dunia.Dimana komoditas kakao produksi para petani di Bumi Mekepung ini telah mendapat pengakuan dari lembaga uji mutu internasional. (Sipers Kemenkop)

AKURAT.CO Desa Devisa Kakao binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) di Desa Nusasari, Jembrana, Bali kembali mengekspor produknya beberapa waktu lalu.

Para petani kakao yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) mengekspor 12 ton biji kakao fermentasi organik ke Den Haag, Belanda senilai Rp600 juta. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan LPEI yang bekerja sama dengan Bea Cukai Denpasar untuk melakukan ekspor secara mandiri tanpa melalui pihak ketiga.

Dalam kondisi pandemi COVID-19, Koperasi KSS mengalami kesulitan untuk mengirim sampel produk kakao ke negara tujuan. Kendala tersebut, antara lain akibat berhentinya bisnis buyer di Eropa, kesulitan memenuhi proses administrasi dan pemeriksaan produk dan dokumen.

Guna mengatasi kendala yang dialami oleh Koperasi KKS, LPEI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan RI bersinergi dengan Bea Cukai Denpasar.

“Dalam hal ini, LPEI memahami kesulitan KSS dalam menjalankan ekspor saat pandemi ini. Setelah berkordinasi dengan Bea Cukai Denpasar, akhirnya masalah itu dapat diatasi, bahkan akhirnya dapat melakukan ekspor secara mandiri,” ucap Corporate Secretary LPEI, Agus Windiarto dalam siaran pers yang diterima, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Dijelaskan bahwa selama pandemi COVID-19, LPEI melalui program Jasa Konsultasi yang dimiliki tetap secara aktif melakukan pendampingan secara intensif terhadap dua Desa Devisa binaan LPEI. Saat pandemi ini, banyak pesanan ekspor mereka terpaksa tertunda.

Selain akibat sepinya pesanan, kendala administrasi, maupun pemeriksaan yang lebih ketat di negara tujuan karena sejumlah negara menerapkan kebijakan lock down. Dengan demikian kegiatan pendampingan itu menjadi krusial guna menemukan solusi bagi mereka.

“Pendampingan yang dilakukan LPEI terhadap 2 Desa Devisa yang berada di Bali dan Yogyakarta dilakukan secara periodik, diadakan secara daring untuk mencari solusi terhadap apapun kendala yang mereka hadapi,” ucap Agus Windiarto.

Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana mengungkapkan, pada 2019, Koperasi KSS hanya memiliki satu buyer luar negeri dengan jumlah pengiriman produk biji kakao tidak mencapai delapan ton.

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu