Olahraga

Loudry Maspaitella: Voli Indonesia di Atas Level Asia Tenggara

Timnas Voli Putra Indonesia mempertahankan emas SEA Games usai mengalahkan Vietnam.


Loudry Maspaitella: Voli Indonesia di Atas Level Asia Tenggara
Tim Nasional Voli Putra Indonesia saat beraksi di final SEA Games 2021 melawan tuan rumah Vietnam, Minggu (22/5). (Kemenpora/PP SIWO PWI/Erly Bahtiar)

AKURAT.CO, Tim Nasional Bola Voli Putra Indonesia melanjutkan dominasinya di wilayah Asia Tenggara dengan meraih emas SEA Games Hanoi 2021 usai mengalahkan tuan rumah Vietnam dengan skor telak 3-0 (25-22, 25-19, dan 25-15) di Dai Yen Sports Arena, Quang Ninh, Minggu (22/5).

Hasil ini membuat Indonesia berhak mempertahankan torehan medali emas yang sudah didapat pada edisi sebelumnya tiga tahun lalu di Manila, Filipina. Kala itu, Rivan Nurmulki dan kolega memenangkan partai final kontra tuan rumah dengan skor 3-0.

Selain mempertahankan medali terbaik, hasil ini sekaligus menegaskan status Indonesia sebagai "raja voli" di Asia Tenggara. Sejak cabang olahraga voli putra dilaksanakan di SEA Games pada 1977 hingga 2021, Indonesia tercatat sudah mengantongi total 20 medali, dengan 11 di antaranya adalah emas.

baca juga:

Indonesia mengungguli Thailand yang baru mengumpulkan 18 medali dengan rincian delapan emas, lima perak, dan lima perunggu.

Manajer Timnas Voli Putra Indonesia, Loudry Maspaitella mengatakan, keberhasilan ini membuat dirinya yakin bahwa level tim besutan Pelatih Jiang Jie (China) tersebut sudah tidak setara dengan tim negara-negara ASEAN lagi.

“Melihat permainan tadi, dan prestasi tim voli putra Indonesia yang berhasil mempertahankan medali emas, kita layak tampil di Asian Games 2022,” kata Loudry Maspaitella dalam keterangan resmi PBVSI, Minggu (22/5). 

“SEA Games harus dibentuk dari tim yang diisi pemain muda, sehingga regenerasi terus berlanjut. Tim ini (SEA Games 2021) biarlah main di Asia. Kita beda level dengan tim-tim lain di Asia Tenggara, saat ini.”

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pilar Timnas Voli Putra Indonesia, Hernanda Zulfi. Bahkan, ia dan rekan-rekannya sudah optimistis bisa meraih emas sebelum bertanding.

“Kami tadi main penuh greget. Tidak ada beban sama sekali. Kita sudah yakin emas dari awal. Kita sekarang mikirnya ke Asia, bukan Asia Tenggara lagi,” kata Nanda, sapaan akrabnya.

Nanda menambahkan, tidak ada tekanan dari penonton sama sekali di final tersebut, tidak seperti di Filipina 2019. Penonton diam saja, seperti tidak ada dukungan buat tuan rumah. “Itu membuat kami tidak ada tekanan sama sekali,” katanya.[]