News

Lonjakan Kasus Hingga Varian Baru, DKI Harus Apa Hadapi Fase Genting Covid-19?

Wagub DKI mengaku pihaknya tidak melakukan perubahan kebijakan PPKM kendati bahaya corona ada di depan mata


Lonjakan Kasus Hingga Varian Baru, DKI Harus Apa Hadapi Fase Genting Covid-19?
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat (AKURAT.CO/Yohanes Antonius)

AKURAT.CO, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak ingin menyetop gelaran live musik di bar, restoran, dan tempat makan di hotel kendati kondisi Jakarta sedang menuju fase genting karena kasus COVID-19 kembali meroket sepekan belakangan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria telah mengkonfirmasi hal ini. Dia mengaku pihakya tidak melakukan perubahan kebijakan dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jakarta yang sedang berlaku sekarang, artinya live musik yang belum lama ini diizinkan di Jakarta tidak dibatalkan.

"Ya semuanya masih seperti dua minggu sebelumnya," kata Ariza di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat Rabu (16/6/2021).

PPKM yang berlaku sekarang ini, kata Ariza, tidak diutak-atik lebih jauh. Kendati ancaman bahaya corona sudah di depan mata, pihaknya hanya menambah satu dua poin baru soal vaksinasi sebagai cara memutus mata rantai penularan COVID-19 di Ibu Kota.

"Namun demikian perbedaannya akan ditingkatkan program vaksinasi, program implementasi di lapangan," tuturnya.

Dihubungi terpisah, Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono justru menilai penerapan PPKM skala mikro di lingkup RT/RW di yang sudah dilakukan Provinsi DKI Jakarta tidak efektif membendung laju penyebaran COVID-19 di Ibu Kota.

Upaya yang dilakukan Gubernur Anies Baswedan dan jajarannya itu dinilai terlampau lemah membendung gelombang tinggi sebaran corona yang sekarang ini sudah bermutasi menjadi sejumlah varian baru yang telah terkonfirmasi masuk Jakarta seperti varian B117 dan B1617.

Kata Miko, dua varian baru itu memiliki daya tular 10 kali lebih cepat dari varian asli corona, sehingga PPKM dinilai bukan perisai yang aman untuk melindungi masyarakat Jakarta dari incaran wabah ini.

"Sekarang harus dilihat baik-baik, ledakan sekarang bukan yang bisanya kalau kemudian virus yang biasanya mungkin bisa dengan PPKM Mikro," kata Miko ketika dikonfirmasi AKURAT.CO.

Diibaratkan perang, gempuran corana di Jakarta saat ini adalah pasukan mematikan yang memberondong dengan peralatan tempur mutakhir. Sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya mampu menahan gempuran musuh dengan peralatan tradisional. Bagi Miko, kondisi ini jelas tidak seimbang, butuh inovasi kebijakan yang lebih modern.

"Kalau kita perang yang selama ini COVID-19 nembak pelan-pelan pakai pistol, kalau sekarang sudah pakai senapan mesin atau ngebom bahkan. Menurut saya kita harus menangkis dengan hebat, jangan menangkis dengan bambu runcing. Harusnya melakukan penanggulangan COVID-19 yang espansif, progresif, kemudian intensif," tegasnya.

Opsi pertama yang mesti dilakukan agar tsunami corona tidak menerjang Jakarta, kata Miko, adalah melakukan lockdown. Semua kegiatan di dalam kota diberhentikan sementara, sehingga tidak ada mobilitas masyarakat yang dapat memicu penularan. Strategi seperti ini diyakini dapat menaklukkan musuh tak kasat mata itu.

"Harus melakukan lock down. Itu pilihan pertama untuk mencegah menyebarnya varian baru, walau kerugian ekonomi harus dibayar," tutur Miko.[]