Rahmah

Logika Cerdas Abu Nawas Saat Menjawab Berbagai Persoalan Agama, Bikin Mikir Keras!

Setelah pulang dari ibadah haji, Baginda Harun Al-Rasyid berencana memanggil Abu Nawas yang sudah lama tidak berjumpa dan berbincang-bincang di istana.


Logika Cerdas Abu Nawas Saat Menjawab Berbagai Persoalan Agama, Bikin Mikir Keras!
Ilustrasi Abu Nawas (NU Online)

AKURAT.CO Dibalik tingkah konyol seorang Abu Nawas, ternyata ada kecerdasan cara berpikirnya yang membuat semua orang-orang merasa kagum. Begitu juga dengan Baginda Raja, karena kecerdasan itulah yang membuat Abu Nawas selalu dipanggil ke istana kerajaan untuk membantu memecahkan masalah.

Namun akhir-akhir ini Abu Nawas tidak pernah terlihat lagi di kerajaan. Hal tersebut karena diketahui Baginda Raja sedang melakukan ibadah haji. 

Singkat cerita, setelah pulang dari ibadah haji, Baginda Harun Al-Rasyid berencana memanggil Abu Nawas yang sudah lama tidak berjumpa dan berbincang-bincang di istana itu. Baginda lalu memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menjemput Abu Nawas dari rumahnya.

Kedatangan Abu Nawas langsung disambut Baginda Raja dengan penuh rasa gembira. Baginda lalu mengajak Abu Nawas berbincang-bincang ke pendopo kerajaan.

Sama seperti sebelumnya, dalam setiap perbincangan, Baginda selalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas. Kali ini Baginda ingin membahas tema seputar ibadah haji yang baru saja ia tunaikan tersebut.

Usut punya usut, ternyata Baginda merasa penasaran dengan orang-orang yang berputar mengelilingi Kakbah Baitullah atau disebut juga dengan nama Tawaf. Padahal, menurut Baginda, orang yang menunaikan ibadah haji adalah tamu Allah SWT. Kok malah disuruh muter-muter.

Baginda menyangka jika status para jamaah haji adalah sebagai tamu Allah SWT, kenapa tidak dipersilahkan saja masuk ke dalam Baitullah satu persatu. Atas dasar itu, Baginda pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Abu Nawas,

"Wahai Abu Nawas, apakah engkau tahu apa artinya Kakbah Baitullah?".

"Ka'bah rumah Allah, Baginda yang mulia," jawab Abu Nawas.

"Baiklah. Sebagai apakah orang yang menunaikan ibadah haji itu?" tanya Baginda lagi.

"Sebagai tamu Allah, Baginda Raja," jawab Abu Nawas.

"Kalau sebagai tamu Allah, mengapa mereka tidak dipersilahkan masuk saja ke dalam Baitullah?" tanya Baginda dengan penuh penasaran.

"Baitullah hanyalah sebagai lambang saja, wahai Baginda," kata Abu Nawas.

"Kalau begitu, lalu di manakah Allah SWT bersemayam?" tanya baginda yang semakin penasaran.

"Wahai Baginda, di dalam hati orang mukmin," jawab Abu Nawas kembali.

"Karena tidak ada suatu ruang yang bagaimanapun luasnya mampu menampung Dzat Allah SWT kecuali hati orang mukmin. Qalbu Mukmin Baitullah (hati orang mukmin adalah rumah Allah)," jelas Abu Nawas.

"Mengapa Baitullah dijadikan kiblat?" tanya Baginda kembali.

"Kalau itu, untuk memudahkan pemahaman orang awam, Baginda Raja yang mulia," kata Abu Nawas.

"Baitullah itu terlihat mata. Dari itu, salat syariat kiblatnya adalah Baitullah, yang waktunya ditentukan dan dengan bacaan tertentu juga," tambah Abu Nawas.

"Sedangkan salat tharikat kiblatnya hati, waktunya bisa setiap saat dan bacaannya dzikir kepada Allah," jelas Abu Nawas.

Atas jawaban yang diberikan Abu Nawas membuat Baginda Raja Harun pun merasa puas. Baginda mengukui dibalik sosok kekonyolan Abu Nawas, ada kecerdasan cara berpikirnya yang tinggi. Wallahu A'lam.[]