Ekonomi

Listing di Bursa Incar Dana untuk Produksi, SBMA Sentuh ARA

PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk akhirnya resmi memantapkan langkahnya melakukan pencatatan perdana saham atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI)


Listing di Bursa Incar Dana untuk Produksi, SBMA Sentuh ARA
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/17.)

AKURAT.CO PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk akhirnya resmi memantapkan langkahnya melakukan pencatatan perdana saham atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/9/2021). Emiten tercatat dengan kode saham SBMA.

Jumlah lembar saham yang dilepas ke publik sebanyak 278.400.000 lembar atau mewakili 29,99% dari total modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum perdana. Saham SBMA ditawarkan di harga Rp180 per saham saat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) yang dilakukan pada tanggal 2-6 September 2021.

SBMA diharapkan dapat mengumpulkan dana sebesar Rp50.112.000.000,

Pada debut perdananya saham SBMA terpantau melonjak hingga 34,44% menjadi Rp242 per saham. Maka SBMA secara otomatis terkena auto rejection atas atau ARA.

Mengingat ketentuan bursa, saham dengan rentang harga acuan Rp50 hingga Rp200 dapat bergerak naik maksimal 35%. 

Direktur Utama PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk Rini Dwiyanti menyatakan dana yang dihimpun dari aksi korporasi ini akan digunakan SBMA untuk mengembangkan bisnis dan menaikkan kapasitas produksi perusahaan. Sebanyak 49,01% akan digunakan untuk membeli lahan seluas 2,05 Ha, 37% digunakan untuk investasi pabrik dan alat-alat penunjang seperti storage tank dan tabung gas, dan 13.99% akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan.

" Hingga bulan Mei tahun 2021, SBMA telah mencatatkan pendapatan sebesar Rp32 miliar (tidak diaudit) dan per semester I tahun 2021 telah mengalami peningkatan penjualan sebesar 10% dibanding semester I tahun 2020," papar Rini di Jakarta, Rabu (8/9/2021).

SBMA yakin dapat memenuhi target omzet di akhir tahun 2021. Lantaran SBMA memiliki jangkauan pasar yang sangat luas dari las pinggir jalan hingga perusahaan besar dan kilang. 

Sedangkan untuk sektor pasar terdiri dari pertrokimia, pertambangan, minyak dan gas alam, laboratorium, EPC, perkebunan termasuk Rumah Sakit. Selama pandemi Covid-19, SBMA melayani kebutuhan Oxygen Medis pemerintah dan masyarakat umum.

" Pengembangan pabrik diperlukan agar SBMA bisa melayani kebutuhan medis dan tetap bisa memenuhi permintaan di sektor industri," jelasnya.

Sekadar informasi, SBMA merupakan produsen gas industri yang berdiri sejak tahun 1980 di Balikpapan. Berawal dari memproduksi gas Acetylene yang umum digunakan untuk mengelas, sekarang SBMA telah memproduksi Gas Oxygen, Gas Nitrogen, Mix Gas dan gas-gas lain seperti Gas Carbondioxida, Gas  Argon, dsb.

Selain penjualan produk, SBMA juga melayani jasa inspeksi bejana tekan dan juga memiliki fasilitas laboratorium pengujian gas.  Sebagai salah satu produsen gas terbesar di Kalimantan Timur, SBMA memiliki visi untuk mengembangkan bisnisnya dan menjadi produsen gas ternama di Indonesia.[]