Tech

Link Obat Tradisional Dihapus BPOM RI

Ratusan ribu link atau tautan iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan dihapus oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dari Internet.


Link Obat Tradisional Dihapus BPOM RI
Ilustrasi link (Pixabay)

AKURAT.CO -Ratusan ribu link atau tautan iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan dihapus oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dari Internet. 

Pasalnya, iklan atau link yang dipromosikan diinternet tidak memenihi syarat dan ketentuan.

"Sebanyak 286.844 link itu kami takedown di Tahun 2021 dan 126.331 link dari Januari sampai April 2022," kata Plt. Deputi Penindakan Obat dan Makanan BPOM RI Mohamad Kashuri, usai peluncuran Zona Ramah Promosi Online UMKM dan Sumplemen Kesehatan kepada wartawan, Sabtu (28/5/2022).

baca juga:

Lebih lanjut, pihaknya telah meminga ,

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melakukan take down atau menghapus link yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia.

Apalagi, banyak link memuat informasi yang menyesatkan.

Tak hanya itu, para pelaku mengiklankan dan mengedarkan produk obat tradisional dan suplemen kesehatan tanpa izin edar.

“Kami sudah menyetujui bahwa klaim apa saja terkait produk harus didukung dengan data saintifik," lanjutnya.

Menurutnya,  ada 80 persen pelanggaran iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan di media daring dilakukan oleh penjual nonprodusen atau distributor.

Dari keseluruhan pelanggaran iklan daring tersebut, sekitar 61 persen ada di platform marketplace dan sebagian besarnya merupakan pelaku usaha mikro kecil (UMK).

Sementara itu Kepala BPOM RI Penny Lukito mengungkapkan, tahun 2021 iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan secara daring yang tidak memenuhi ketentuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan iklan konvensional.

Ada 61,12 persen daring berbanding 21,76 persen dengan yang konvensional.

"BPOM mempunyai misi agar masyarakat terlindungi dari risiko obat dan makanan, termasuk produk obat tradisional dan suplemen kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan dan informasi yang menyesatkan," pungkasnya.