Olahraga

Liliyana Pebulutangkis Terbaik Putri Era 2010-an versi Twitter BWF


Liliyana Pebulutangkis Terbaik Putri Era 2010-an versi Twitter BWF
Pebulutangkis Indonesia Liliyana Natsir disambut penggemar saat berjalan ke arah podium acara perpisahan untuk dirinya pada final Daihatsu Indonesia Master 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Liliyana yang disapa Butet akan pensiun usai menjalani karirnya sebagai pebulutangkis Indonesia setelah berkarir selama 24 tahun. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Atlet legendaris Indonesia, Liliyana Natsir, terpilih sebagai pebulutangkis putri terbaik era 2010-an. Liliyana terpilih berdasarkan jajak pendapat yang digelar oleh akun Twitter resmi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

Butet–sapaan Liliyana–bertarung dengan 20 nama lainnya. Di antaranya adalah juara Olimpiade Rio De Janeiro 2016, Carolina Marin, atlet asal Jepang Ayaka Takahashi, serta legenda hidup Chinese Taipei yang saat ini bercokol di posisi ranking satu dunia, Tai Tzu Ying.

Pada jajak pendapat akhir, Liliyana bertarung dengan Tai Tzu Ying. Dari 4.260 suara, Liliyana mendapatkan sebanyak 69,4 persen suara berbanding 30,6 persen milik Tai Tzu Ying.

“Dihormati di lapangan karena kewaspadaan taktikal dan bakatnya di depan net, Natsir dianggap sebagai salah satu pemain ganda campuran paling subur sepanjang sejarah,” tulis BWF.

Lahir di Manado, 9 September 1985, Liliyana pindah ke Jakarta dari tanah kelahirannya pada usia 12 tahun untuk bergabung dengan klub Tangkas Alfamart. Pada usia 17 tahun, Liliyana bergabung dengan Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

Capaian terbaik Liliyana adalah meraih medali emas nomor ganda campuran Olimpiade Rio 2016 bersama Tontowi Ahmad. Medali tersebut merupakan yang pertama diraih oleh ganda campuran dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di cabang bulutangkis olimpiade.

Liliyana juga menjadi satu-satunya pebulutangkis Indonesia yang pernah bermain di dua final olimpiade. Sebelum menjadi juara pada 2016, Liliyana sempat tampil di final Olimpiade Beijing 2008 bersama Nova Widianto namun dikalahkan oleh pasangan Korea Selatan, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung.

Di sektor ganda campuran, Liliyana adalah atlet tersukses dengan mencatatkan empat gelar juara dunia. Liliyana meraihnya pada 2005 dan 2007 bersama Nova dan mengulanginya pada 2013 dan 2017 bersama Owi–sapaan Tontowi.

Setelah melewati karir panjangnya, Liliyana akhirnya memutuskan pensiun setelah Indonesia Masters pada Januari 2019. Butet meninggalkan riuh dan deru kompetisi dalam usia 34 tahun.[]