Ekonomi

Likuiditas Perbankan Masih Kuat di Tengah Bayang-bayang Kenaikan NPL

Likuiditas Perbankan Masih Kuat di Tengah Bayang-bayang Kenaikan NPL
Webinar Akurat yang bertemakan 'Resesi di Depan Mata: Indonesia Harus Apa', di Jakarta, Rabu (26/8/2020) (Screenshot Webinar Akurat)

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 telah menghantam segala lini perekonomian Indonesia, khususnya di perbankan. Peningkatan risiko kredit bermasalah masih membayangi industri perbankan karena banyak nasabahnya yang terpukul juga. Kendati demikian perbankan masih mempunyai daya tahan yang tinggi.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meminta perbankan untuk mewaspadai kinerja kredit bermasalah (NPL) yang per Juni 2020 mencapai 3,11 persen atau naik dibandingkan Mei 2020 mencapai 3,01 persen karena dampak pandemi COVID-19.

“NPL kecenderungannya naik itu yang perlu diwaspadai juga restrukturisasi kredit yang posisinya naik mencapai 21 persen,” kata Anggota Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono dalam Webinar Akurat yang bertemakan 'Resesi di Depan Mata: Indonesia Harus Apa', didukung oleh Bank Central Asia dan Bank Indonesia, di Jakarta, Rabu (26/8/2020)

baca juga:

Dalam paparannya, Didik menjelaskan angka kredit macet pada Juni 2020 itu lebih tinggi dari pada Juni 2019 yang tercatat mencapai 2,50 persen. Sedangkan, persentase pertumbuhan penyaluran kredit per Juni 2020 turun menjadi 1,49 persen, dibandingkan Mei 2020 mencapai 3,04 persen dan Juni 2019 sebesar 9,92 persen.

Meski begitu, lanjut dia, kinerja secara umum perbankan masih berdaya tahan, salah satu indikatornya rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,54 persen pada Juni 2020 atau lebih tinggi dibandingkan posisi Mei 2020 mencapai 22,26 persen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kecukupan modal (CAR) bank umum konvensional per Juli 2020 menguat menjadi 23,1 persen dibandingkan Juni 2020 yang 22,59 persen.

"Likuiditas perbankan masih melimpah dan terjaga dengan stabil," kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Teguh Supangkat dalam webinar yang sama.

Dia menjelaskan beberapa faktor yang mendorong likuiditas terjaga karena adanya kebijakan strategis yang membentuk rasio modal bank menguat di antaranya penurunan giro wajib minimum sebesar 200 basis poin untuk bank umum konvensional dan 50 basis poin untuk bank umum syariah.

Selain itu, lanjut dia, juga ada penurunan suku bunga acuan yang dipertahankan tetap 4 persen dan pelonggaran likuiditas dari Bank Indonesia.

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu