Ekonomi

Lewat Pengendalian OPT Agens Hayati, Kementan Genjot Produksi Pertanian Jawa Timur

Kementan berupaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), melalui Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)


Lewat Pengendalian OPT Agens Hayati, Kementan Genjot Produksi Pertanian Jawa Timur
Kementan melakukan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) (DOKUMEN)

AKURAT.CO Kementerian Pertanian terus melakukan upaya peningkatan produktivitas pertanian. Salah satu upayanya adalah dengan mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), melalui Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).

PHT, dengan memanfaatkan agens hayati, merupakan program pengendalian OPT secara terpadu dengan memperhatikan aspek-aspek ekologi, ekonomi dan budaya untuk menciptakan suatu sistem pertanian yang berkelanjutan dengan meminimalisir pencemaran lingkungan yang disebabkan pestisida dan kerusakan lingkungan. 

Agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan OPT. Salah satu agen hayati yang sering digunakan petani adalah PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), yaitu kelompok bakteri menguntungkan yang mengkolonisasi rizosfir (lapisan tanah tipis antara 1-2 mm di sekitar zona perakaran).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian akan makin kuat apabila didukung riset dan inovasi yang berkelanjutan. Ia juga menegaskan, petani Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0.

"Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, terus melakukan kampanye diberbagai kesempatan agar petani dan penyuluh sebagai garda terdepan suksesnya pembangunan pertanian, agar terus bekerja keras. Dan salah satu faktor produksi pertanian adalah pengendalian OPT. OPT bisa menghilangkan hasil antara 10 – 100 persen bahkan hingga tidak bisa panen atau gagal panen.

"Bila kita bisa mengendalikan OPT, artinya kita bisa menyelamatkan produktivitas antara 10 - 80% dan salah satu caranyanya bisa dengan menggunakan pestisida nabati," ujar Kabadan.

Kabadan juga berharap penyuluh dan petani bisa membuat pestisida sendiri. Dengan cara tersebut, petani dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas. 

"Produktivitas kita pasti berdaya saing, maka kita dapat mampu mengekspor hasil tani Indonesia," katanya.

Sebagai salah satu provinsi pemasok pangan di Indonesia, pemerintah daerah Jawa Timur bekerjasama dengan Kementerian Pertanian melalui Strategic Irrigation Modernization Urgent Project (SIMURP), telah melakukan pembinaan pada petani dan penyuluh dalam menerapkan PHT ramah lingkungan dengan menggunakan PGPR Beauvaria bassiana sebagai pengendali OPT tanaman. 

Beauvaria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang bersifat parasit yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga yang dihinggapinya sehingga beauveria bassiana ini sangat efektif bila digunakan sebagai pengendali hama tanaman.

Sebagai bukti keseriusan pemerintah daerah Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jember, dalam menangangi serangan OPT ramah lingkungan,  Bupati Jember H. Hendy Siswanto bersama Kepala Dinas TPHP Kab Jember dan Ketua Komisi B DPRD Jember pada Kamis (21/10/2021) telah melaksanakan kunjungan ke Kelompok Tani Bina Tani Desa Lengkong Kecamatan Mumbulsar, Jember lokasi SIMURP. 

Pada kesempatan tersebut Bupati, Kepala Dinas dan Ketua Komisi B DPRD Jember bersama petani, turun ke sawah melakukan gerakan pengendalian OPT dengan menggunakan Agens Hayati Beauveria Bassiana, yang dibuat sendiri oleh petani dibantu oleh PPL dan POPT. 

Dengan luas baku sawah 270 ha, Desa Lengkong mempunyai pola tanam padi - padi – padi, sehingga bila terjadi serangan OPT menjadi permasalahan yang serius yang dapat mengancam produksi pangan di Jember. 

Dengan agens hayati ini diharapkan menjadi salah satu solusi. Keistimewaan dari Agens hayati (Beauveria Bassiana dan Psedomonas Fluorescens) ini adalah Agens hayati yang dibuat sendiri oleh para petani dan petani milenial dengan bimbingan PPL dan POPT yang telah mendapat pelatihan. 

Dari hasil penelusuran, Beauveria bassiana adalah agensia hayati ramah lingkungan yang dapat mengendalikan serangan hama Wereng Hijau, Wereng Batang Coklat, Walang Sangit dan Kutu – kutuan. 

Menurut salah satu penyuluh pendamping, Bastyan Fikri, agens hayati Beauveria Bassiana bahannya relatif mudah didapatkan antara lain kentang, gula, minyak goreng, isolat dan larutan PK. Sedang alatnyapun mudah didapat dan murah yaitu berupa galon, aerator, botol bekas dan selang. 

"Pembuatannya mudah yaitu setelah isolat jamur Beauveria bassiana dan larutan kentang menyatu kemudian diinkubasi selama 2-3 minggu dengan diberi aerasi dari aerator," katanya. 

Setelah 2 minggu larutan akan berbau harum maka fermentasi Beauveria bassiana telah siap diaplikasikan. Dalam kesempatan yang sama, Bupati Jember melihat pembuatan PGPR. 

Selanjutnya dijelaskan pula oleh penyuluh pendamping bahwa PGPR sangat menguntungkan karena dapat berperan sebagai Bio Fertilizer, Bio Stimulant, Bio Protektan dan Rhyzoremediator (Pembenah tanah berkelanjutan) yang sangat mendukung Sustainable Agricuture. 

PGPR dapat pula dibuat dari bahan utama lain yatu akar bambu atau putri malu yang dicampur dengan gula, terasi,dedak dan micin. Bahan-bahan tersebut kemudian direbus dan dimasukkan kedalam wadah tertutup untuk proses fermentasi selama 14 hari. 

Aplikasi dapat dilakukan pada lahan yg belum ditanami dengan dosis 1 liter PGPR untuk 1 tanki semprot ukuran 14 liter dan dapat diulangi setelah 21 hari. 

Pengetahuan tentang agens hayati diperoleh para petani dan penyuluh pada bimtek teknologi pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian melalui SIMURP hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. 

Dukungan Pemerintah Daerah Jember melalui Dinas TPHP, menjadi amunisi petani untuk terus semangat meningkatkan produksi dan produktivitas hasil usahataninya dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan dan suatu keniscayaan Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. 

Di akhir kunjungannya Bupati Jember mengajak masyarakat Jember untuk mencintai petani dan pertanian, menjaga kearifan lokal utamanya pada saat pandemi saat ini, serta mengajak masyarakat untuk membeli produk hasil pertanian lokal sehingga roda perekonomian lokal terus berputar.

Aktivitas PGPR berpengaruh secara positif bagi pertumbuhan tanaman. Pengaruh PGPR secara langsung adalah menyediakan dan memobilisasi penyerapan berbagai unsur hara dalam tanah serta serta  berperan dalam sintesis berbagai hormon pemacu pertumbuhan tanaman. Sedang pengaruh tidak langsungnya adalah  PGPR berperan melindungi tanaman dengan cara menghambat aktivitas pathogen dan dapat memperbaiki struktur tanah serta mengikat logam berat yang terdapat di dalam tanah.[TIM]