News

Letusan Tonga: Dua Orang Tewas, Komunikasi Masih Terputus, Lapisan Abu Hambat Bantuan Kemanusiaan 

Letusan Tonga: Dua Orang Tewas, Komunikasi Masih Terputus, Lapisan Abu Hambat Bantuan Kemanusiaan 


Letusan Tonga: Dua Orang Tewas, Komunikasi Masih Terputus, Lapisan Abu Hambat Bantuan Kemanusiaan 
Sebuah foto yang dirilis oleh Angkatan Pertahanan Selandia Baru menunjukkan bagian dari Tonga yang diselimuti abu (Angkatan Pertahanan Selandia Baru via BBC)

AKURAT.CO, Skala kerusakan akibat letusan gunung berapi dan tsunami di Tonga dilaporkan mulai terlihat jelas. Menurut badan-badan bantuan, beberapa pulau kecil dan terpencil di Tonga mengalami kerusakan besar. 

Di saat yang bersamaan, abu yang menutupi landasan pacu telah menghambat upaya bantuan ke Tonga.

Padahal seperti diwartakan BBC, Selandia Baru saat ini sedang berupaya untuk mengirimkan air minum bersih dan persediaan lainnya. Namun, gara-gara lapisan abu, pesawat tidak dapat mendarat di bandara utama.

baca juga:

Perihal soal bantuan ke Tonga ikut diungkap oleh Menteri Luar negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta. Pada hari Selasa (18/1), Mahuta mengakui bahwa pada tahap ini, air adalah salah satu prioritas tertinggi untuk Tonga. Badan-badan bantuan mengonfirmasi hal serupa, mengatakan ada kemungkinan besar bahwa debu vulkanik dan tsunami telah mencemari persediaan air Tonga.

Namun abu, yang telah mengubah lanskap hijau Tonga yang biasanya subur menjadi cokelat berlumpur, perlu dibersihkan sebelum pesawat Selandia Baru dapat mendarat.

Sekelompok orang Tonga telah menyapu abu dari landasan, 1News melaporkan. Kendati demikian, pembersihan ini kemungkinan akan memakan waktu setidaknya sampai Rabu (19/1).

Sementara bantuan masih terganjal, dua orang telah dilaporkan tewas. Meski begitu, ada kekhawatiran bahwa jumlah korban sebenarnya lebih tinggi mengingat saat ini komunikasi masih terbatas.

Gunung berapi bawah laut, Hunga Tonga-Hunga Haʻapai, meletus pada Sabtu (15/1), menghujani Tonga dengan abu dan memicu tsunami.

Di ibukota Nukuʻalofa, Komisi Tinggi Selandia Baru mengungkap bahwa selain tepi laut, daerah itu sebagian besar tidak rusak-EPA via BBC

Tonga, yang berbentuk kepulauan, terdiri dari 177 pulau yang tersebar di wilayah Pasifik Selatan dengan ukuran kira-kira seluas Jepang. Lebih dari 100 ribu orang tinggal di sana, dengan sebagian besar dari mereka berada di pulau utama Tongatapu.

PBB sendiri telah melaporkan kerusakan parah pada properti di pantai barat Tongatapu.  

Kemudian di ibukota Nukuʻalofa, Komisi Tinggi Selandia Baru mengungkap bahwa selain tepi laut, daerah itu sebagian besar tidak rusak.

Namun, ada kekhawatiran tentang kelompok pulau Ha'apai, yang terletak di utara Tongatapu.

Penerbangan pengawasan, sementara itu, menunjukkan sebuah desa yang seluruhnya hancur di satu pulau dan bangunan rata di pulau lain.

Wakil kepala misi Tonga di Australia, Curtis Tu'ihalaningie, mengatakan kepada Reuters bahwa foto-foto itu 'mengkhawatirkan'.

"Kemungkinan akan ada lebih banyak kematian dan kami hanya berdoa agar itu tidak terjadi," katanya.

Komunikasi dengan antar pulau, sementara itu, dipastikan terganggu karena kabel bawah laut yang menghubungkan Tonga ke seluruh dunia terputus akibat letusan.

Akibatnya, warga Tonga yang tinggal di luar negeri hingga kini masih dilanda kecemasan karena menunggu kabar dari kerabat dan orang-orang terkasih di rumah. Tak hanya itu, Palang Merah bahkan mengungkap bahwa telepon satelit, yang digunakan oleh banyak lembaga bantuan, memiliki layanan yang buruk karena efek awan abu. Sementara laporan mengatakan bahwa pemulihan saluran telepon dan internet kemungkinan akan  membutuhkan waktu hingga dua minggu.

Letusan gunung bawah laut di Tonga begitu dahsyat sampai-sampai terasa di Amerika Serikat. Kemudian di Peru, dua orang tenggelam dalam gelombang tinggi yang tidak normal sementara pantai di dekat ibu kota Lima ditutup setelah tumpahan minyak. []