News

Legislator NasDem Ingin Masyarakat Skeptis Saat Bermedia Sosial

Lisda Hendrajoni menyapaikan, ada beberapa perilaku baik dan benar di media sosial (Medsos) adalah dengan bersikap skeptis.


Legislator NasDem Ingin Masyarakat Skeptis Saat Bermedia Sosial
Anggota DPR RI Komisi VIII Lisda Hendrajoni  (Istimewa)

AKURAT.CO, Anggota DPR RI Komisi VIII Lisda Hendrajoni membeberkan beberapa perilaku baik dan benar ketika berselancar di media sosial. Pertama, berperilaku skeptis. 

“Sikap yang pertama adalah skeptis, tapi skeptis sehat. Artinya kita harus mencari tahu kebenarannya sebelum menyebarkan," kata Lisda dalam diskusi bertajuk 'Literasi Digital di Masa Pandemi: Bijak Bersosmed Menanggapi Misinformasi COVID-19' dikutip pada, Senin (25/10/2021).

Kedua, tambah Lisda masyarakat perlu waspada dan cek latar belakang peneliti atau keahliannya dan berpikir, untuk menerima perubahan seputar pandemi Covid-19.

Menurut Lisda, tiga hal ini selain membentengi diri  sendiri dari misinformasi Covid-19, tapi juga membuat penanganannya menjadi lebih baik.

"Kita harus selalu awas terhadap klaim yang berlebihan. Ketiga, cermat dan analisa," jelasnya.

"Apakah isi berita ini sama dengan judul beritanya. Apakah yang dibagikan sudah bermanfaat untuk orang lain," sambungnya.

Sementara itu, Wasekjen DPP GP NasDem, Ahmad Kaelani menambahkan, pentingnya untuk terus menyebarkan dan memahami literasi digital bagi seluruh penghuni ruang digital hari ini.

Dia mengatakan, apa yang dimaksud dengan kecakapan literasi digital adalah kemampuan untuk membaca, mengevaluasi, mengelola dan sebagainya, yang bersifat komunikasi dan informasi.

“Ada kemampuan ‘digital culture’, kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa dan membangun wawasan kebangsaan nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika," paparnya.

"Sering terjadi orang bermedia sosial, tetapi tidak menerapkan nilai-nilai kebangsaan. Kemudian ‘digital ethics’, kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital,” imbuhnya.

Diketahui, topik "Literasi Digital di Masa Pandemi: Bijak Bersosmed Menanggapi Misinformasi COVID-19” lepas dari meningkat drastisnya misinformasi sepanjang masa pandemi dua tahun terakhir.

Merujuk pada data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), jumlah misinformasi atau informasi hoaks selama pandemi meningkat hingga lebih dari 2.000 kasus, dengan 34 persen misinformasi seputar Covid-19.

Hal tersebut juga berbanding lurus dengan meningkatnya pengguna media sosial di Indonesia, tercatat ada lebih dari 10 juta pengguna media sosial baru yang bertambah hanya selama pandemi. Sehingga, pengguna media sosial di Indonesia pada 2021 mencapai 61,8 persen dari penduduk Indonesia. Komitmen Ditjen APTIKA melalui Gerakan Nasional Literasi Digital akan terus dijalankan. Demi menegakkan empat pilar utamanya: Etis Bermedia Digital; Aman Bermedia Digital; Cakap Bermedia Digital; dan Budaya Bermedia Digital.[]