News

Lega! WHO, Ilmuwan AS Sebut Omicron Tidak Lebih Buruk dari Varian Corona Lainnya

Namun, para ilmuwan tetap memperingatkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk menilai tingkat keparahan dari varian tersebut.


Lega! WHO, Ilmuwan AS Sebut Omicron Tidak Lebih Buruk dari Varian Corona Lainnya
Michael Ryan mengungkap bahwa belum ada bukti bahwa Omicron dapat sepenuhnya menghindari perlindungan yang diberikan oleh vaksin yang ada (AFP/Pedro PARDO)

AKURAT.CO  Varian Omicron tampaknya tidak lebih buruk daripada jenis virus corona lainnya. Hal itu baru saja diungkap oleh para ilmuwan top dari Amerika Serikat serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat berbicara dengan kantor berita AFP. Namun, para ilmuwan tetap memperingatkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk menilai tingkat keparahan dari varian tersebut.

Sebagaimana diwartakan CNA, penilaian dari para ilmuwan itu datang ketika kekhawatiran global atas Omicron semakin tumbuh. Diketahui usai varian tinggi mutasi itu diumumkan ke dunia, puluhan negara langsung bergegas memberlakukan pembatasannya, termasuk larangan perjalanan yang menargetkan negara-negara di Afrika selatan. Pembatasan-pembatasan karena Omicron pun sempat diprediksi akan membawa kembali penguncian ketat yang berdampak besar pada ekonomi.

Di tengah kepanikan dan kekhawatiran itu, WHO mengamini bahwa Omicron kemungkinan memang lebih menular dari strain Covi-19 lainnya. Akan tetapi disebutkan bahwa menurut data awal, gejala yang ditimbulkannya tidaklah parah atau tidak membuat orang lebih sakit dibandingkan infeksi varian Delta dan jenis lainnya. 

"Data awal tidak menunjukkan bahwa ini lebih parah. Bahkan, jika ada, arahnya menuju ke arah yang lebih ringan. Ini masih sangat awal, kita harus sangat berhati-hati dalam menafsirkan sinyal itu," kata  Direktur Eksekutif untuk Program Keadaan Darurat WHO, Michael Ryan, dikutip dari First Post. 

Selama wawancara, Ryan, yang seorang ahli epidemiologi, bersikeras tentang perlunya lebih banyak penelitian. Pada saat yang sama, dia mengatakan tidak ada tanda bahwa Omicron dapat sepenuhnya menghindari perlindungan yang diberikan oleh vaksin Covid-19 yang sudah ada.

"Kita memiliki vaksin yang sangat efektif yang telah terbukti efektif melawan semua varian sejauh ini, dalam hal penyakit parah dan rawat inap.

"Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa vaksin tidak akan memberikan perlindungan dari Omicron,"  kata Ryan sambil menunjuk ke data awal dari Afrika Selatan menunjukkan vaksin setidaknya bisa tetap memberi pertahanan soal perlindungan. 

Kendati demikian, Ryan turut mengakui kemungkinan bahwa vaksin yang ada kurang efektif melawan Omicron, varian yang memiliki lebih dari 30 protein lonjakan.'

Ilmuwan top AS Anthony Fauci, sementara itu, menggemakan pandangan WHO. Kepala Penasihat Medis untuk Presiden AS itu juga mengatakan Omicron tampaknya tidak lebih buruk daripada jenis sebelumnya berdasarkan indikasi awal. Menurut Fauci, varian itu bahkan mungkin 'lebih ringan'.

"Varian baru itu jelas sangat menular, sangat mungkin lebih dari Delta, strain global yang dominan saat ini."

"(Tapi) Hampir pasti tidak lebih parah dari Delta. Ada beberapa saran bahwa itu mungkin tidak terlalu parah," katanya saat berbicara kepada AFP.

Namun, Fauci tetap menekankan agar data awal soal keparahan tidak diinterpretasikan secara berlebihan. Mengingat, data masih ditarik dari populasi pasien dengan usia cenderung muda, dan kecil kemungkinan untuk mereka dirawat di rumah sakit. Penyakit parah juga bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk berkembang.

"Kemudian, saat kita mendapatkan lebih banyak infeksi di seluruh dunia, mungkin perlu waktu lebih lama untuk melihat tingkat keparahannya," terang Fauci.

Baca Juga: Penelitian Terbaru, Omicron Memliki Potongan Genetik dari Virus Biasa

Deteksi kasus Omicron pertama bulan lalu bertepatan dengan lonjakan jumlah infeksi di seluruh dunia, dan varian tersebut menambah bahan bakar kekhawatiran tentang kebangkitan global terhadap Covid-19.

Omicron sejauh ini telah ditemukan di 57 negara di seluruh dunia, kata WHO. Belum ada kematian yang dikaitkan dengan varian tersebut.

Ryan menekankan perlunya semua negara untuk membantu mendeteksi kasus Omicron dan meneliti perilakunya.

"Semakin banyak dan lebih baik data yang kita kumpulkan dalam dua minggu ke depan, (semakin besar peluang) kesimpulan yang jelas mengenai implikasi varian ini," katanya.

Sementara penilaian awal yang positif dari Omicron membantu meredakan kekhawatiran, terutama di antara pasar global, kemunculan varian menyoroti satu hal, bahwa perjuangan melawan pandemi masih jauh dari selesai.

Covid-19 telah menewaskan lebih dari 5,2 juta orang di seluruh dunia sejak pertama kali diumumkan pada akhir 2019, meskipun jumlah korban sebenarnya kemungkinan berkali-kali lipat lebih tinggi.

Para ilmuwan dan pakar kesehatan, sementara itu, tetap menegaskan vaksinasi dan menjaga jarak sosial adalah kunci untuk mengalahkan semua varian virus, termasuk Omicron.

"Virus itu tidak mengubah sifatnya. Aturan mainnya masih sama," kata Ryan.

Namun, meski sudah jelas bahwa inokulasi penting, persyaratan vaksin justru memicu perlawanan di banyak negara. Ini terjadi baik karena informasi yang salah dan teori konspirasi atau dampak ekonomi dan logistik dari mandat tersebut.

Di Brussels, Belgia misalnya, sekitar 4 ribu orang berkumpul untuk memprotes. Pada aksi Selasa (7/12) itu, massa menentang rencana pemerintah Belgia untuk membuat vaksin wajib bagi petugas kesehatan mulai awal tahun depan.

"Kami mendukung vaksinasi, tetapi mengapa hanya petugas kesehatan?"

"Karena semua orang harus divaksinasi, semua orang atau tidak sama sekali,"  kata seorang perawat bernama Perrine.[]