News

Lawan Polusi, India Terapkan Larangan Pengunaan Sampah Sekali-Pakai

India terapkan larangan penggunaan sampah sekali pakai.


Lawan Polusi, India Terapkan Larangan Pengunaan Sampah Sekali-Pakai
Sampah plastik di jalanan di India. (hindustantimes.com)

AKURAT.CO India memulai langkahnya memerangai plastik. Sejak Jumat (1/7), India secara resmi menerapkan larangan penggunaan plastik sekali pakai di berbagai barang mulai dari sedotan hingga pembungkus rokok. Kebijakan ini resmi diterapkan untuk melawan polusi yang terus memburuk di negara yang jalannya dipenuhi oleh sampah tersebut, seperti dilansir dari CNN. 

Dengan pengumuman tersebut, pemerintah juga resmi menolak permintaan sejumlah perusahaan makanan, minuman, dan barang yang sebelumnya meminta kebijakan tersebut ditunda. 

Saat ini, sampah plastik menjadi sumber polusi yang sangat signifikan di India, negara dengan penduduk terbanyak ke dua di dunia. Pertumbuhan ekonomi yang cepat membuat permintaan akan barang yang menggunakan plastik sekali-pakai seperti sedotan hingga alat makan plastik meningkat. 

baca juga:

India saat ini dilaporkan per tahun menggunakan sekitar 14 juta plastik. Namun, negara ini memiliki sedikit sekali sistem yang terorganisasi untuk mengelola sampah plastik yang menyebabkan meluasnya pembuangan sampah sembarangan. Ini dapat dilihat dari sejumlah ruas jalan di India yang dipenuhi dengan produk plastik bekas yang akhirnya menyumbat selokan, sungai, hingga laut dan juga membunuh berbagai binatang.  

Perdana Menteri India, Narendra Modi menyatakan bahwa larangan atas penggunaan plastik sekali-pakai diterapkan pada sedotan, peralatan makan, ear buds, film kemasan, stik plastik untuk balon, permen dan es krim, dan bungkus rokok. 

Demi sedikit membantu pelanggan, pemerintah saat ini masih memperbolehkan penggunaan kantong plastik tetapi tetap meminta manufaktur dan pengimpor untuk menambah ketebalannya agar bisa digunakan kembali. 

Selain sejumlah perusahaan makanan, minuman dan barang konsumsi, perusahaan plastik juga mengajukan komplain terkait pembatasan tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak memberikannya cukup waktu untuk melakukan persiapan menghadapi kebijakan tersebut. 

Menanggapi hal ini, sejumlah ahli berpendapat bahwa menerapkan pelarangan bisa sangat sulit. Pemerintah juga telah membuat lembaga khusus untuk mengawasi penggunaan, penjualan, dan distribusi berbagai produk plastik sekali-pakai. 

Menurut AS, sampah plastik kini telah menjadi proporsi epidemi di lautan dunia, dengan sekitar 100 juta ton plastik dibuang di sana. Sejumlah saintis telah menemukan mikro plastik dengan jumlah yang begitu besar di dalam saluran penceranaan berbagai mamalia yang hidup di bagian terdalam laut seperti ikan paus.  []