Ekonomi

Lawan Larangan Sawit dari Eropa, Pemerintah Harus Dekatkan ISPO ke Petani Kecil!

ISPO memiliki peran penting sebagai jalur dan langkah mitigasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh undang-undang RED II tersebut


Lawan Larangan Sawit dari Eropa, Pemerintah Harus Dekatkan ISPO ke Petani Kecil!
Pekerja memindahkan kelapa sawit ke dalam kendaraan pengangkut saat panen di kawasan Ranca Bungur, Kabupaten Bogor, Selasa (29/12/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Pemantau Kelapa Sawit (Palm Oil Monitor), Khalil Hegarty mengatakan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) memiliki peran penting sebagai jalur dan langkah mitigasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh undang-undang RED II tersebut.

Ia mengatakan ada perbedaan defisini petani kecil antara Indonesia dan Uni Eropa. Di Uni Eropa masalah petani kecil muncul dari RED II Delegated Act UE. 

"Dalam RED II Delegated Act UE tersebut merevisi definisi petani kecil dengan cakupan yang lebih sempit, yang akan mengakibatkan tersingkirnya banyak petani kecil. Sehingga terdapat inkoherensi kebijakan dalam kebijakan perdagangan dan pembangunan UE, dan pembaruan peraturan deforestasi baru yang telah terjadi di berbagai negara. Ini termasuk proposal terbaru UE tentang pembatasan impor pertanian melalui peraturan deforestasi, RUU Kongres AS untuk mengurangi deforestasi, dan undang-undang baru Inggris tentang deforestasi ilegal, " tutur Khalil Hegarty lewat, Kamis (21/10/2021).

Khalil mengingatkan bahwa perubahan UU di luar negeri tersebut berimplikasi lebih lanjut pada minyak sawit dan komoditas lain seperti kakao, karet, kayu, dan pulp, sehingga dalam perdagangan komoditas tersebut pentingnya faktor treacablity (ketertelusuran) dan sertifikasi sebagai kunci untuk melanjutkan ekspor komoditas dari Indonesia ke pasar global.

"Tanpa informasi treacability dan sertifikasi, produk pertanian Indonesia tidak akan bisa masuk pasar Internasional, " jelas Khalil. 

Dia menyarankan UE harus mempertimbangkan definisi petani kecil sebagaimana diatur dalam ISPO (<25ha), mengakui ISPO sebagai bagian dari solusi bagi petani kecil, akses ke rantai nilai global bagi petani kecil, dan dampak dari gangguan perdagangan. 

"Indonesia harus melakukan komunikasi yang jelas dengan pasar ekspor dan pemerintah perlu masif menjelaskan pentingnya sistem sertifikasi ISPO kepada petani kecil di Indonesia. Maka dengan begitu implikasinya terhadap pasar minyak sawit dan komoditas ekspor Indonesia bisa menguasai pasar Eropa dan negara lainnya," terang Khalil.

Peneliti dari Consortium Studies On Smallholder Palm Oil (CSSPO), Diana Chalil mengungkapkan penerapan sertifikasi tidak secara langsung meningkatkan aksi kolektif mengingat karakteristik petani kecil di Indonesia yang berbeda yang mempersulit pengorganisasian petani ke dalam satu manajemen.

"Banyak petani belum menjalani pelatihan yang memadai dan mengandalkan pelatihan informal dari teman dan keluarga sehingga produktivitas menjadi rendah dan harga jual rendah, ditambah lagi banyak kebun plasma tidak memiliki sertifikat tanah dan kekuatan finansial. Masalah lain ketergantungan petani kecil yang tinggi, yaitu sangat bergantung pada pemangku kepentingan dan pemain lain di sepanjang rantai pasokan, " beber Diana Chalil.