Tech

Lawan Hoaks, Pemuda dari 28 Provinsi Kampanyekan Literasi Digital Lewat JaWAra Internet Sehat

Pemuda menjadi agen perubahan melawan misinformasi


Lawan Hoaks, Pemuda dari 28 Provinsi Kampanyekan Literasi Digital Lewat JaWAra Internet Sehat
Konferensi pers virtual JaWAra Internet Sehat (Maverick)

AKURAT.CO Sejak awal pandemi Covid-19 banyak informasi palsu dan menyesatkan yang turut mewabah. Akibatnya, banyak yang merasakan kebingungan bahkan sampai membuat orang menolak vaksin, mengabaikan protokol kesehatan, hingga berobat dengan pengobatan yang tidak terbukti secara ilmiah. 

Untuk mengatasi penyebaran misinformasi berbagai lembaga pengecek fakta dan Kominfo melakukan upaya pemerisaan fakta. Namun, upaya tersebut belum memadai. Gerakan akar rumput untuk mengatasi masalah ini tetap harus diusahakan, khususnya di pelosok Indonesia. Untuk menjawab tantangan tersebut, 60 aktivis pemuda dari 28 provinsi maju menjadi agen perubahan melalui JaWAra Internet Sehat.

JaWAra Internet Sehat merupakan sebuah gerakan pemuda nasional untuk melawan misinformasi yang dimulai sejak Agustus. Didukung penuh dari ICT Watch, Kominfo, dan WhatsApp. Para JaWAra ini menerima  pelatihan untuk menginisiasi program literasi digital di wilayahnya masing-masing.

Hal itu untuk membantu komunitasnya atau orang-orang di daerah mereka menjadi warga digital yang bertanggung jawab.

Program ini sudah diluncurkan pada 16 lalu. Terhitung hingga 1 Oktober 2021, para JaWAra telah menjalankan 26 program dan lebih dari 50 kegiatan di lebih dari 50 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Mereka melakukan program edukasi di level lokal dengan menyesuaikan kebiasaan warga dan budaya setempat. 

Fokus utama gerakan ini adalah mengatasi misinformasi. Meski begitu JaWAra Internet Sehat juga akan menjawab tantangan digital lainnya seperti privasi dan keamanan digital. Secara keseluruhan mereka sudah memberdayakan sekitar 17.300 orang dari target 15.000 orang, termasuk pemuda, orang tua, guru, masyarakat lokal, serta pelaku UKM, di seluruh daerah. 

“Selama pandemi, kami melihat percepatan penyebaran misinformasi dan tantangan privasi digital. Hal ini sangat mempengaruhi ketahanan digital nasional yang dapat mengakibatkan kerusuhan sosial, konflik politik, serta kerugian ekonomi. Di sisi lain, kami percaya kekuatan kultural, kedekatan masyarakat, dan keunikan adalah kunci keberhasilan untuk program-program pemberantasan hoaks di Indonesia,” ungkap Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Devie Rahmawati. 

Devie juga sangat mengapresiasi adanya program JaWAra Internet Sehat dengan beragam kegiatannya yang relevan dengan budaya dan kebiasaan lokal di tiap daerah. Menurutnya program ini terbukti secara nyata dapat menjangkau publik secara luas dan sejalan dengan program pemerintah untuk mengatasi man divide.

Selain untuk mendukung transformasi digital pemerintah, JaWAra Internet Sehat juga diadakan untuk menjawab tantangan yang sering dihadapi oleh pemerintah dan lembaga sipil.