Ekonomi

Larangan Sudah Dicabut, Malaysia Tetap Pede Ambil Ekspor Sawit Indonesia

Malaysia sendiri masih pede untuk tetap ambil pangsa ekspor Indonesia terhadap sawit


Larangan Sudah Dicabut, Malaysia Tetap Pede Ambil Ekspor Sawit Indonesia
Pekerja menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di kawasan Candali, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Malaysia masih percaya diri alias pede dengan kemampuannya untuk mengambil pasar ekspor Indonesia. Dengan dimulainya kembali ekspor minyak sawit Indonesia tidak akan menumpulkan daya saing Malaysia dalam mengekspor minyak nabati. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Menteri Komoditas Malaysia, Zuraida Kamarudin.

Dalam pernyataannya, Zuraida mendesak kepada seluruh pengusaha dan petani kelapa sawit di Malaysia untuk tidak khawatir dengan dimulainya kembali kegiatan ekspor sawit Indonesia baru-baru ini.

"Semua petani kelapa sawit Malaysia baik perusahaan perkebunan maupun petani kecil  untuk tidak terlalu khawatir dengan perkembangan baru-baru ini," jelasnya seperti yang dikutip dari Reuters, Minggu (22/5/2022).

baca juga:

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar, dengan Malaysia di urutan kedua. Harga semua jenis minyak nabati telah mencapai rekor tertinggi tahun ini karena perang di Ukraina telah mengganggu pasokan salah satunya, minyak bunga matahari.

Khawatir dengan kenaikan harga minyak goreng domestik, Indonesia pada 28 April melarang ekspor minyak sawit. Akan tetapi keputusan Indonesia terbaru mengatakan bila larangan akan mulai dicabut mulai tanggal 23 Mei 2022.

Sebelumnya, India mendapatkan dua pertiga minyak sawitnya dari Indonesia, terpaksa membeli lebih banyak dari Malaysia dan Thailand, sementara importir frustrasi lainnya mengatakan mereka akan mengurangi ketergantungan pada pasokan Indonesia yang tidak dapat diprediksi.

"Kebijakan Indonesia bisa menguntungkan Malaysia ...,akan memungkinkan untuk menjadi pemasok dominan ke India," kata Zuraida menyusul adanya kebijakan Indonesia yang sedang melakukan pelarangan ekspor sawit.

Zuraida mengatakan kementeriannya tidak mengharapkan penyesuaian yang besar terhadap harga minyak sawit mentah menyusul pengumuman kebijakan terbaru Indonesia. Harga akan tetap pada level yang tinggi karena ketidakpastian dalam produksi biji minyak utama sebagai akibat dari ketegangan geopolitik dan cuaca yang tidak menguntungkan.

Menteri Zuraida sendiri pun saat ini sedang melakukan lobi dengan kementerian keuangan tentang proposal untuk sementara memotong pajak ekspor minyak sawit mentah sebanyak setengahnya untuk membantu mengisi kekurangan global minyak nabati dan meningkatkan pangsa pasar Malaysia, katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara pekan lalu.[]

Sumber: Reuters