Ekonomi

Langkah Garuda Fokus Bisnis Penerbangan Domestik Dinilai Tepat, Ini Alasannya

Langkah Garuda Indonesia untuk fokus bisnis penerbangan domestik dinilai tepat karena ada peluang pasar premium dan korporasi


Langkah Garuda Fokus Bisnis Penerbangan Domestik Dinilai Tepat, Ini Alasannya
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) melakukan pemeriksaan pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Senin (30/7/2018). PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merampungkan sekuritisasi pendapatan penerbangan rute Timur Tengah senilai Rp 2 triliun. Sekuritisasi tersebut dikemas dalam kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA) yang terdiri atas kelas A sebesar Rp 1,8 triliun dan kelas B Rp 200 miliar. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati menilai rencana pemerintah yang ingin menjadikan PT Garuda Indonesia untuk fokus pada bisnis penerbangan domestik merupakan keputusan tepat, karena ada peluang pasar premium dan korporasi yang bisa dikelola oleh perseroan.

"Jumlah perusahaan di Indonesia ada ribuan dari Aceh sampai Papua, belum lagi dari pemerintahan hingga universitas. Mereka naik Garuda karena time performance," jelasnya dilansir dari Antara, Jumat (4/6/2021).

Dia menyebutkan jumlah korporasi yang telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Garuda Indonesia mencapai lima ribuan perusahaan. Para pejabat setingkat manager menggunakan maskapai pelat merah ini untuk melakukan perjalanan kerja dan bisnis.

"Potensi pasar korporasi bisa mencapai 15 ribu perusahaan, tapi itu belum digali karena 10 ribu sisanya cenderung naik maskapai lain," kata Arista.

Selain ketepatan waktu, unsur kejelasan asuransi dan kelengkapan alat keselamatan juga menjadi poin penting yang menjadi perhatian konsumen saat menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Terutama penumpang yang bekerja pada perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia.

Arista tak menampik meski penerbangan domestik menawarkan keuntungan bagi Garuda Indonesia, namun segmen pasar ini juga memiliki kelemahan berupa selisih nilai tukar mata uang.

"Bayar cicilan pakai dolar, sedangkan domestik duitnya terima rupiah. Pertanyaan kita Lion Air 90% domestik tetap bisa hidup, Citilink itu mungkin 90% terbang domestik juga bisa hidup," kata Arista.

Menurutnya, manajemen Garuda Indonesia harus melakukan berbagai efisiensi supaya tidak menambah beban cicilan utang yang harus dibayarkan perseroan pakai dolar.

Berdasarkan data laporan keuangan terakhir yang dirilis Garuda Indonesia pada kuartal III 2020, BUMN penerbangan itu mempunyai utang sebesar Rp98,79 triliun yang terdiri dari utang jangka pendek Rp32,51 triliun dan utang jangka panjang sebesar Rp66,28 triliun.[]

Sumber: ANTARA