Ekonomi

L'Ambiance Berdayakan Santri Hasilkan Produk Furnitur Kualitas Ekspor

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi langkah CV L'Ambiance, salah satu perusahaan furnitur dan kerajinan Indonesia berorientasi ekspor


L'Ambiance Berdayakan Santri Hasilkan Produk Furnitur Kualitas Ekspor
Pekerja menata barang dagangan di kios sentra kerajinan berbahan rotan di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (13/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi langkah CV L'Ambiance, salah satu perusahaan furnitur dan kerajinan Indonesia berorientasi ekspor, yang menerapkan Community Development Model.

"Ini bisa kita jadikan Role Model untuk diterapkan di daerah lain," ungkap Teten, saat meninjau pabrik furnitur L'Ambiance di daerah Susukan, Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (14/11/2021).

Dalam model tersebut, L'Ambiance kerjasama dengan koperasi, pondok pesantren (santri), hingga komunitas-komunitas pemuda, terutama di daerah terpencil, untuk dididik dan dibina memproduksi furnitur berkualitas ekspor.

"Disini, L'Ambiance berperan juga sebagai offtaker dari produk yang sudah dihasilkan para santri dan pemuda lainnya. Termasuk melakukan pendampingan proses produksi hingga finishing," kata Teten.

Bahkan, lanjut MenKopUKM, model L'Ambiance bisa dikembangkan menjadi inkubator bisnis yang mampu melahirkan jiwa kewirausahaan. "Bisa menghasilkan enterpreneur-enterpreneur baru yang tangguh dan berkualitas," tandas Teten.

Oleh karena itu, MenKopUKM menekankan bahwa para santri dan pemuda di L'Ambiance untuk segera mendirikan koperasi. "Pasarnya sudah ada, offtaker ada, tinggal mereka berkoperasi agar mendapat tambahan pendampingan dari Kementerian Koperasi dan UKM," imbuh Teten.

Di samping itu, Teten pun berharap di daerah-daerah lain bermunculan para Movement Leader seperti yang dilakukan L'Ambiance di Salatiga. "Sekarang saatnya memproduksi yang memiliki nilai daya saing global," tegas MenKopUKM.

Dalam kesempatan yang sama, pemilik dan Direktur CV L’Ambiance Edi Suwito menyebutkan bahwa setiap gelombang pelatihan bisa merekrut sekitar 50 santri atau pemuda. Ke depan, jumlah peserta akan ditingkatkan menjadi 100 orang.

"Kita membina mereka dari sisi proses produksi, hingga menampung hasil produknya atau offtaker. Saya berharap pasca pelatihan, mereka bisa mengembangkannya secara mandiri di tempatnya masing-masing," kata Edi.