News

Lagi, Ketua KPK Sebut Jawa Barat Provinsi Terkorup

Di sampaikan Firli di hadapan 120 legislator Jawa Barat


Lagi, Ketua KPK Sebut Jawa Barat Provinsi Terkorup
Ketua KPK Firli Bahuri dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2020). (Streaming Facebook DPR RI)

AKURAT.CO, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menghadiri rapat koordinasi program pemberantasan korupsi terintegrasi bertempat di DPRD Provinsi Jawa Barat, Rabu (8/9/2021).

Berbicara di hadapan 120 legislator Jawa Barat, Firli mengungkapkan provinsi yang dipimpin Gubernur Ridwan Kamil menjadi provinsi terbanyak penyumbang kasus korupsi.

Peringkat Jawa Barat itu disampaikan Firli sesuai dengan data korupsi yang ditangani KPK tahun 2004 hingga 2020.

"Dari sepuluh besar kasus korupsi di daerah yang ditangani KPK, Jawa Barat di peringkat satu dengan jumlah 101 kasus," kata Firli.

Oleh karenanya Firli mengingatkan seluruh wakil rakyat di provinsi Jawa Barat untuk tidak melakukan korupsi.

Firli menjelaskan ada empat tahapan dalam tugas dewan terkait penganggaran yang rawan korupsi. Yakni penyusunan, persetujuan, pengesahan dan pengawasan.

"Semuanya rawan korupsi," kata Firli.

Firli juga menjelaskan modus-modus korupsi dan yang paling banyak dilakukan adalah pemerasan, gratifikasi dan penyuapan.

"Saya meyakini kawan-kawan dipilih oleh rakyat, untuk itu pegang teguh kepercayaan rakyat. Jangan lewatkan masa pengabdian lima tahun karena korupsi," demikian kata Firli Bahuri.

Soal Jawa Barat menjadi provinsi paling korupsi pernah disampaikan Firli pada 6 Juni 2020, ketika berbicara dalam acara diskusi daring yang diikuti seluruh gubernur se-Indonesia.

Firli saat itu memaparkan sepuluh wilayah atau daerah yang paling banyak terjadi kasus korupsi. Berikut ini data 10 wilayah atau daerah tersebut:

  • Pemerintah Pusat: 359 kasus
  • Jawa Barat: 101 kasus
  • Jawa Timur: 85 kasus
  • Sumatera Utara: 64 kasus
  • DKI Jakarta: 61 kasus
  • Riau dan Kepulauan Riau: 51 kasus
  • Jawa Tengah: 49 kasus
  • Lampung: 30 kasus
  • Banten: 24 kasus
  • Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Bengkulu, Papua: 22 kasus.[]