Rahmah

Lagi dan Lagi, Jawaban Abu Nawas Bikin Raja Bahagia, Endingnya Ngakak Banget

Suatu hari, Baginda merasa kangen dengan sosok Abu Nawas yang selalu membuatnya bahagia itu.


Lagi dan Lagi, Jawaban Abu Nawas Bikin Raja Bahagia, Endingnya Ngakak Banget
Ilustrasi Raja Harun Ar-Rasyid (Islami.co)

AKURAT.CO  Diketahui belakangan ini, Abu Nawas tidak pernah dipanggil Baginda Raja. Hingga pada suatu hari, Baginda merasa kangen dengan sosok Abu Nawas yang selalu membuatnya bahagia itu.

Jika pada sebelum-sebelumnya Baginda selalu memerintahkan beberapa pengawalnya untuk memanggil Abu Nawas, kali ini tidak. Baginda Raja ingin mendatangi rumah Abu Nawas sendiri. Selain itu, Baginda juga bermaksud ingin mengamati perkembangan masyarakat sekitar.

"Wahai pengawal, hari ini aku ingin ke rumah Abu Nawas dan jalan-jalan di kota. Sekarang juga ambilkan kuda terbaik untukku," titah Baginda Raja Harun Ar-Rasyid. 

Beberapa pengawal langsung meminta penjaga kuda kesayangan Baginda Raja yaitu kuda yang berwarna putih nan gagah. Setelah itu, Baginda Raja langsung menungganginya. Dengan gagah, Baginda Raja berangkat menuju rumah Abu Nawas.

Tampaknya, Abu Nawas sudah mengetahui jika Baginda ingin mendatangi rumahnya. Setibanya di depan rumahnya, ia segera menyambut Baginda.

Saat itu, Abu Nawas memang sudah menyiapkan sesuatu ingin yang berkesan untuk Baginda Raja. Ia keluar rumah dengan melilitkan handuk di kepalanya. Abu Nawas kemudian duduk di pinggir jalan tepat di rumahnya. Melihat tingkah kocak Abu Nawas itu membuat Baginda Raja tertawa.

"Wahai Abu Nawas, engkau ini sedang apa?".

"Saya ini bukan Abu Nawas, saya dewa bumi," jawab Abu Nawas dengan suara dibesar-besarkan. Dia duduk seperti sebuah batu layaknya arca. Dimana tangannya ia lipat di dada. 

Baginda Raja sepertinya mengetahui jika kali ini Abu Nawas memang ingin membuat masalah. Baginda segera mencari cara agar dapat mengatasi si cerdik Abu Nawas.

"Karena engkau adalah dewa bumi, tentunya engkau bisa membesarkan mata prajuritku yang sipit ini. Jika engkau tidak bisa, engkau akan dihukum pancung," kata Baginda dengan suara yang juga seolah-olah menakutkan. 

Abu Nawas sepertinya terlihat terkekeh. "Baginda tampaknya keliru memberi tugas kepada dewa bumi. Tugas seperti itu harusnya diberikan kepada dewa langit. Karena dialah yang mengurus segala masalah dari pusar ke atas," jelas Abu Nawas meyakinkan Baginda.

"Jika begitu, lantas urusan dewa bumi apa?" tanya Baginda penasaran.

"Kalau Baginda meminta pertolongan kepadaku, urusanku adalah segala yang berkaitan dengan bagian pusar ke bawah," jawab Abu Nawas. 

Baginda hanya tersenyum dengan kecerdikan Abu Nawas. Selanjutnya Abu Nawas mempersilakan Baginda masuk ke rumahnya yang sederhana itu. 

Namun dialog pun berlanjut di dalam rumah Abu Nawas. Baginda tampak senang pagi itu. Hingga beberapa kali terdengar suara derai tawanya.

"Wahai Abu Nawas, datanglah ke istana nanti sore. Kita sambung obrolan ini di sana," ajak Baginda Raja kemudian pamit. 

Sore harinya, Abu Nawas datang ke  istana. Kebetulan saat itu Baginda Raja sedang duduk dengan permaisuri di meja makan. Kemudian Abu Nawas bergabung di meja itu. 

"Wahai Abu Nawas, di piring itu ada lima butir telur. Bagi secara adil dan rata telur itu kepada kita bertiga. Engkau, saya, dan permaisuri. Tidak boleh dipecah," titah Baginda. 

Mata Abu Nawas langsung tertuju ke arah lima butir telur di dalam piring. Ia merasa bingung bagaimana bisa lima butir telur dibagi tiga secara rata tanpa boleh dipecah. 

"Wahai Abu Nawas, ayo lakukan," desak Baginda Raja. 

Abu Nawas sepertinya sudah menemukan caranya. Ia tersenyum lalu mengambil lima butir telur tersebut dan berkata, "Baginda yang mulia, ini sebutir untuk Baginda sebab Baginda sudah mempunyai dua butir. Saya juga sebutir. Sedangkan yang tiga butir ini untuk permaisuri, sebab dia tidak punya sebutir telur pun,". 

Baginda Raja sempat tertegun. Hingga kemudian tertawa terbahak-bahak setelah mengerti apa yang dimaksud dari perkataan Abu Nawas. Jawaban Abu Nawas itu kembali menggembirakan hati Baginda Raja. 

"Ada-ada saja engkau ini, Abu Nawas," kata Baginda sambil tersenyum. []