Rahmah

Kurban untuk Instansi atau Lembaga, Begini Ketentuannya

Kurban kambing hanya untuk satu orang dan sapi maksimal untuk tujuh orang


Kurban untuk Instansi atau Lembaga, Begini Ketentuannya
Pekerja memberi makan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) CV Berkah Usaha Baba Farm, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat muslim saat hari raya Idul Adha adalah memotong hewan kurban. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa instansi atau lembaga yang melakukan kurban entah itu atas nama pribadi karyawan atau nama instansi secara keseluruhan.

Jika kurban atas nama karyawan, maka tidak ada masalah selama sesuai dengan ketentuan, yaitu satu sapi untuk 7 karyawan dan satu ekor kambing untuk satu karyawan. Pertanyaannya kemudian kurban atas nama instansi, bagaimana statusnya?

Dilansir NU Online, ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW setiap tahun berkurban sebanyak dua ekor kambing. Yang satu untuk pribadi Nabi, dan yang satunya lagi untuk umat beliau. Secara tidak langsung hadis ini dianggap sebagai dalil pokok bagi kurban patungan dan kurban yang dilakukan oleh sebuah instansi/yayasan.

baca juga:

Di dalam Tuhafatu al-Muhtaj ‘ala Syarh al-Minhaj (8/1) disebutkan,

  وَيُسَنُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُضَحِّيَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ عَنْ الْمُسْلِمِينَ بَدَنَةً فِي الْمُصَلَّى وَأَنْ يَنْحَرَهَا بِنَفْسِهِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَإِنْ لَمْ تَتَيَسَّرْ بَدَنَةٌ فَشَاةٌ وَإِنْ ضَحَّى عَنْهُمْ مِنْ مَالِهِ ضَحَّى حَيْث شاء

Artinya, “Dan disunnahkan bagi Imam untuk menyembelih hewan kurban berupa unta budnah yang diambil dari kas Baitul Mal yang ditujukan atas nama umat islam semuanya di tempat melaksanakan salat dan juga berkurban untuk dirinya sendiri. Hadis riwayat al-Bukhari. Jika tidak mudah mendapatkan unta budnah, maka cukup dengan seekor kambing. Dan jika berkurban untuk umat Islam ini diambil dari kas miliknya sendiri, maka ia boleh melakukannya sekira ia mau.”

Selanjutnya, masih dalam Nihayah al-Muhtaj, dijelaskan bahwa kebolehan mengambil dana untuk kurban dari kas yayasan atau instansi ini adalah dengan catatan jika dana kas itu longgar.

Pelaksanaan kurban yang dilakukan diatasnamakan seluruh anggota yang terlibat dalam instansi tersebut bersifat tidak menggugurkan tuntutan (anjuran) berkurban bagi orang kaya yang terdapat dalam instansi. Disebutkan dalam Niahayah al-Muhtaj (8/144),

  وَلَا يَسْقُطُ بِفِعْلِهِ الطَّلَبُ عَنْ الْأَغْنِيَاءِ، وَحِينَئِذٍ فَالْمَقْصُودُ مِنْ الذَّبْحِ عَنْهُمْ مُجَرَّدُ حُصُولِ الثَّوَابِ لَهُمْ

Artinya, “Tuntutan berkurban, tidak gugur atas orang yang kaya yang disebabkan kurbannya Imam. Karena yang dimaksud dengan penyembelihan kurban oleh imam itu adalah hanya semata tercapainya pahala kurban secara umum untuk orang muslimin (yang terlibat dalam instansi).”

Perlu diketahui, apabila kurban atas nama instansi tersebut sifatnya ditentukan (mu’ayanah), maka tergolong kurban wajib sehingga berlaku segala ketentuan yang ada dalam kurban wajib.

Sumber: NU Online