Rahmah

Kurban bagi Perantau: di Kampung Halaman atau di Domisili?

Menurut ulama mazhab Syafi’i, dalam pelaksanaan kurban tidak ada ketentuan hewan harus disembelih di tempat orang yang berkurban


Kurban bagi Perantau: di Kampung Halaman atau di Domisili?
Pembeli melihat hewan kurban jenis sapi dan kambing di kawasan Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (3/7/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Ibadah kurban merupakan anjuran bagi setiap muslim ketika tiba hari raya Idul Adha. Pelaksanaannya dilakukan pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijah. Semangat berkurban bisa dimiliki siapa saja, termasuk orang yang sedang berada di tanah rantau.

Pertanyaannya, kurban perantau dilakukan di mana? Di kampung halaman atau di tempat domisilinya?

Dilansir NU Online, menurut ulama mazhab Syafi’i, dalam pelaksanaan kurban tidak ada ketentuan hewan harus disembelih di tempat orang yang berkurban. Sehingga, bagi seorang perantau bisa memilih, apakah mau berkurban di kampung halaman dengan diwakilkan atau di tempat domisilinya.

baca juga:

Dasar jawaban ini diambil dari penjelasan Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi dalam Hasyiyah ‘ala Al-Ghurar al-Bahiyyah (5/170) berikut,

قال في الروض ونقلها عن بلدها كنقل الزكاة. اهـ. وهو المعتمد وإن نازع الإسنوي فيه فالمراد بالفقير فقير بلدها وينبغي أن يعلم أن المراد ببلدها بلد ذبحها 

Artinya, “Berkata Imam Ibnu al-Muqri dalam kitab al-Raudl; memindah kurban dari daerahnya hukumnya seperti memindah zakat (haram). Ini adalah pendapat yang dibuat pegangan, meski Imam al-Asnawi menentangnya. Maka yang dikehendaki orang fakir adalah orang fakir di tempat kurban. Seyogianya diketahui bahwa yang dimaksud daerah kurban adalah daerah tempat penyembelihan kurban.”

وقد ظن بعض الطلبة أن شرط إجزاء الأضحية ذبحها ببلد المضحي حتى يمتنع على من أراد الأضحية أن يوكل من يذبح عنه ببلد آخر والظاهر أن هذا وهم بل لا يتعين أن يكون الذبح ببلد المضحي بل أي مكان ذبح فيه بنفسه أو نائبه من بلده أو بلد أخرى أو بادية أجزأ وامتنع نقله عن فقراء ذلك المكان أو فقراء أقرب مكان إليه إن لم يكن به فقراء فليتأمل

Artinya, “Sebagian pelajar menyangka bahwa syarat mencukupinya kurban adalah disembelih di daerah domisili mudlohhi (pihak yang berkurban), sehingga tercegah bagi orang yang ingin berkurban mewakilkan penyembelihan kurban kepada orang lain di luar daerah.”

“Yang jelas, anggapan ini adalah kekeliruan, bahkan penyembelihan kurban tidak harus di daerahnya domisili mudlahhi, pelaksanaan kurban sah dan mencukupi di mana pun tempatnya, baik disembelih sendiri atau diwakilkan kepada orang lain di daerahnya atau di daerah lain atau bahkan di hutan.

“Dan tercegah memindah daging kurban dari orang fakir daerah penyembelihan atau orang fakir daerah tetangga terdekat bila di daerah penyembelihan tidak ada orang fakir.”

Penjelasan ini diperkuat oleh paparan Syekh Abu Bakr bin Syatha  dalam I’anah al-Thalibin (2/280) berikut,

وأما نقل دراهم من بلد إلى بلد أخرى ليشتري بها أضحية فيها فهو جائز.

Artinya, “Adapun mentransfer beberapa dirham dari satu daerah ke daerah lain untuk dibelikan dan dilaksanakan kurban (di tempat transferan), maka boleh.”[]

Sumber: NU Online