UJANG KOMARUDIN

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta
News

Kudeta Demokrat dan 2024

Demokrat diuntungkan dengan konflik ini.


Kudeta Demokrat dan 2024
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menggelar rapat pimpinan secara maraton untuk menyikapi Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang di Gedung DPP Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/3/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Moeldoko memanfaatkan momentum Kongres Luar Biasa (KLB) sebagai “panggung politik”. Pembahasan tentang Moeldoko terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat hasil KLB (5/3), atau kritikan kubu AHY yang menyatakan Demokrat versi Moeldoko adalah abal-abal. Kedua kubu sama-sama memanfaatkan ini sebagai “panggung politik”.

Pertarungan dua kubu ini nantinya di Kemenkumham atau Pengadilan Tata Usaha Negara. Dalam kasus ini hal menarik yang dilakukan Moeldoko adalah dengan memanfaatkan tuduhan petinggi Partai Demokrat kubu AHY kepadanya terhadap “rencana kudeta”. KSP Moeldoko memanfaatkan momentum dipecatnya Jhoni Allen, Marzuki Alie, dan lainnya untuk mengkonsolidasikan gerakannya—dengan bertambahnya musuh AHY.

Pertemuan Moeldoko dengan beberapa petinggi partai Demokrat sebelum KLB Deli Serdang, Sumatera Utara, membaca gelombang konflik di internal Demokrat atau orang yang tidak puas dengan kepemimpinan AHY. Kemenangan AHY secara aklamasi sebagai Ketua Umum Demokrat Periode 2020-2025 tentu tak membuat semua pihak bahagia, terutama petinggi partai yang sejak awal membangun partai.

Jika kritikan AHY menaiki puncak tanpa mendaki itu sah-sah saja. Pengalaman politik AHY baru maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, setelah kalah dipersiapkan sebagai Ketua Umum. Ibas, sang adik, sebelumnya merupakan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat dan anggota DPR-RI dari Demokrat, punya kesempatan lebih sebagai Ketua Umum dengan pengalaman di partai. Cepatnya langkah AHY merebut kepemimpinan Demokrat, secara tak langsung mentahbiskan anggapan kalau Partai menjalankan dinasti politik.

Namun, kemenangan AHY secara aklamasi tak bisa dipungkiri kalau ia melewati tahapan demokrasi dengan tak adanya calon lain menangtangnya. Apakah aklamasi itu dirancang? Itu skendario biasa dalam organisasi, yang jelas AHY telah melewati proses-proses tersebut. Tidak sepakat dengan keputusan ini jalannya juga lewat organisasi, pecahnya PKB, Golkar, PPP, dan Partai Berkarya tidak lepas dari peluang-peluang yang diambil dalam aturan organisasi.

Bonus Popularitas

Politik adalah panggung. Jika 2024 semakin dekat, panggung politik menuju kesana sudah dimulai. Beberapa lembaga survei menempatkan tokoh-tokoh seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan lainnya sebagai nominasi kandidat kuat calon presiden atau wakil presiden.

Sebagai menteri dan kepala daerah. Tokoh-tokoh ini mendapatkan kesempatan lebih bertemu dengan pemilih. Jabatan yang sedang diembannya saat ini, menjadi modal besar untuk mendapatkan “tiket popularitas” dipilih oleh partai untuk diusung sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu