News

KTT ASEAN Belum Mampu Damaikan Myanmar, 8 Orang Terbunuh di Protes Terbaru

Hingga kini, junta belum mau berbicara.


KTT ASEAN Belum Mampu Damaikan Myanmar, 8 Orang Terbunuh di Protes Terbaru
Dalam foto ini, warga melakukan protes di Kotapraja Hlaing, Yangon, Myanmar, Minggu (2/5). (Reuters via AsiaOne)

AKURAT.CO, KTT ASEAN yang digelar di Indonesia bulan lalu terlihat belum cukup mampu meredakan krisis politik di Myanmar. Pasalnya, kasus demonstran anti-kudeta yang tewas kembali mewarnai media massa. Hingga kini, junta belum mau berbicara. Namun, delapan orang dilaporkan telah meregang nyawa.

Seperti diwartakan AsiaOne, insiden terjadi saat warga kembali menggelar protes anti-kudeta besar-besaran pada Minggu (2/4), delapan hari setelah pemimpin junta, Jenderal Min Aung Hlaing, datang ke Jakarta. Pada protes Minggu itu, para pengunjuk rasa pro-demokrasi menggelorakan 'revolusi musim semi global Myanmar. Ini adalah semacam demonstrasi terkoordinasi yang dilakukan komunitas Myanmar di seluruh dunia. 

Di dalam negeri, revolusi ini bahkan ikut dipimpin oleh para biksu Buddha. Mereka berjalan dan menggiring arus demonstran di berbagai kota di Myanmar, termasuk pusat komersial Yangon hingga Mandalay. 

"Guncang dunia dengan suara persatuan rakyat Myanmar," kata penyelenggara aksi dalam sebuah pernyataan.

Namun, semangat untuk menggelar revolusi itu akhirnya kembali disambut peluru oleh pasukan keamanan yang dimpimpin junta. Di Mandalay misalnya, kantor berita Mizzima melaporkan dua orang tewas karena ditembak.

Laporan serupa juga diungkap oleh situs berita Irrawaddy. Mereka mengunggah foto seorang pria berpakaian biasa membidik senapannya di Mandalay. Pria inipun dikatakan sebagai petugas pasukan keamanan.

Kemudian di pusat kota Wetlet, tiga orang tewas, seperti diwartakan kantor berita Myanmar Now. Lalu di kota-kota di Negara Bagian Shan di timur laut, jumlah yang terbunuh mencapai dua orang. Sisanya, satu orang, tewas di kota pertambangan giok utara Hpakant, seperti dilaporkan oleh Grup Berita Kachin.

Protes hanyalah salah satu masalah yang dibawa para jenderal militer karena menggulingkan pemimpin sipil pada 1 Februari lalu. 

Kini, Myanmar juga dihadapkan pada konflik antara militer dengan para pemberontak etnis minoritas di daerah-daerah terpencil di utara dan timur. Perang junta dengan para pemberontak ini bahkan meningkat tajam sejak kudeta, akhirnya menggusur puluhan ribu warga sipil tak bersalah.  

Kemudian, di beberapa tempat, warga sipil dilaporkan nekat menenteng senjata untuk bertempur dengan pasukan keamanan. Lalu, di daerah-daerah pusat fasilitas militer dan pemerintah yang dulunya aman, mulai dilanda serangan roket hingga ledakan kecil.

Media Khit Thit misalnya, melaporkan adanya ledakan di luar barak polisi di Yangon pada Minggu pagi. Karena insiden itu, sejumlah kendaraan terbakar. Namun, belum diketahui, apakah ada korban jiwa dalam ledakan ini. 

Menyusul itu, Irrawaddy ikut melaporkan dua peristiwa ledakan lain di Yangon. Salah satu ledakan bahkan dikatakan berada di luar rumah seorang pejabat pemerintah. Satu orang terluka dalam insiden itu.

Lalu, ledakan juga dilaporkan terjadi di luar rumah seorang pengunjuk terkemuka, menurut sebuah portal berita dari Negara Bagian Shan.

Sementara, pada Sabtu (1/5) malamnya, penyiar berita yang dikelola pemerintah mengklaim bahwa selama 36 jam, setidaknya ada 11 ledakan yang terjadi. Disebutkan pula sebagian ledakan meletus di Yangon.

"Beberapa perusuh yang tidak menginginkan stabilitas negara telah melemparkan dan menanam bom buatan tangan di gedung-gedung pemerintah dan di jalan umum," klaim penyiar berita tersebut.

Meski begitu, sampai saat ini, belum diketahui secara pasti siapa yang bertanggung jawab atas berbagai ledakan tersebut.

Sementara ledakan mulai meneror pemerintahan junta, AAPP telah melaporkan peningkatan jumlah warga terbunuh sejak kudeta, yakni mencapai sedikitnya 765 jiwa. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co