News

KSPPA PSI Temukan 3 Kejanggalan di Lokasi Pesantren Kasus Pemerkosaan 12 Santriwati

Kasus pemerkosaan terhadap 12 santriwati di Bandung menuai perhatian banyak pihak. Salah satunya dari pengurus KSPPA-PSI yang ikut bertindak.


KSPPA PSI Temukan 3 Kejanggalan di Lokasi Pesantren Kasus Pemerkosaan 12 Santriwati
Ilustrasi pemerkosaan (The Clinical Advisor)

AKURAT.CO, Kasus pemerkosaan terhadap 12 santriwati di Bandung menuai perhatian banyak pihak. Salah satunya dari pengurus Komite Solidaritas Pelindung Perempuan dan Anak (KSPPA-PSI) yang ikut bertindak.

Pengurus KSPPA-PSI Mary Silvita mengatakan, pihaknya sudah menyambangi tempat kejadian perkara dan melakukan investigasi sejak Sabtu (4/12/2021).

Dari keterangan warga yang berhasil dihimpun, terdapat kejanggalan yang terlihat jelas sebelum kasus pemerkosaan terhadap santriwati ini terkuak.

1. Santriwati terlihat ketakutan

Menurut warga sekitar, santriwati terlihat gelisah dan takut saat Herry datang ke pondok pesantren. Mereka langsung masuk usai melihat sang guru tiba di lingkungan pondok.

Namun, terdapat seorang anak berusia 9 tahun, berkulit hitam manis, asal Papua sering terlihat menangis dan mengadu kepada warga bahwa dia sering didorong dan dimarahi.

Warga juga melihat para santriwati tampak tertutup dan pendiam. Sehingga, mereka tampak seperti ada pembatasan untuk berbicara dan berkomunikasi bagi santriwati dengan para tetangga.

Warga sekitar menuturkan jika para tetangga selalu memberi bantuan, baik berupa uang, makanan dan barang ke Novi, istri Herry. Sebab, mereka memang selalu membuat pengumuman menerima donasi untuk para anak yatim piatu yang mereka asuh.

2. Melihat anak-anak bayi yang mirip dengan Herry

Seorang warga yang sering memberikan donasi kepada Herry mengatakan dirinya keberadaan anak-anak balita yang dia lihat berparas mirip dengan Herry. Padahal usia para balita tersebut seperti sepantaran.

3. Melihat kebiasaan santriwati

Bukan hanya itu saja, seorang warga juga melihat kebiasaan para santriwati bekerja sehari-hari. Mereka tampak lebih sering bekerja daripada belajar. Mulai dari mencuci, menjemur pakaian, bersih-bersih, sampai mengaduk semen untuk membangun pagar.