Ekonomi

KSP: Surplus Neraca Perdagangan Jadi Momentum Keluar dari Krisis

Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Ekonomi KSP Edy Priyono mengatakan surplus neraca perdagangan senilai US$1,57 miliar, menjadi momentum keluar dari krisis.


KSP: Surplus Neraca Perdagangan Jadi Momentum Keluar dari Krisis
Suasana matahari tenggelam saat kegiatan bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (20/8/2019). BPS mencatat neraca perdagangan pada Juli 2019 defisit sebesar US$60 juta, seiring realisasi impor sebesar US$15,51 miliar dan ekspor US$ 15,45 miliar. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Ekonomi Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono mengatakan surplus neraca perdagangan senilai US$1,57 miliar, menjadi momentum keluar dari krisis.

"Momentum ini perlu terus dijaga, agar kita bukan hanya mampu keluar dari krisis, tetapi juga tumbuh secara lebih baik. Nanti setelah pandemi usai,” ujar Edy dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Dia mengatakan surplus neraca dagang tersebut tidak lepas dari transaksi perdagangan luar negeri (ekspor/impor), khususnya sektor industri. Hal ini menurutnya, terlihat dari peningkatan yang terjadi pada impor barang modal dan bahan baku/penolong yang meningkat hingga 33,7 persen secara year on year (yoy).

Hal yang sama terjadi untuk impor bahan baku, mengalami peningkatan secara yoy sebesar 25,82 persen. Secara implisit, hal itu menunjukkan bahwa sektor industri, sebagai pemakai barang modal dan bahan baku, terus menggeliat dan bangkit di masa pandemi.

Edy menyebutkan catatan ini patut disyukuri di tengah kesulitan ekonomi pada masa pandemi. "Apalagi pada April 2020 lalu, neraca perdagangan kita sempat defisit,” ungkap Edy dilansir dari Antara.

Indikator kinerja industri (Prompt Manufacturing Index) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, PMI Indonesia berada pada level 50,01 atau naik dari 47,29 pada kuartal IV-2020.

Dari sini, Edy melihat, sektor industri sudah mulai memasuki zona ekspansi (PMI lebih dari 50).

PMI pun diperkirakan terus membaik dan menjadi 55,25 pada kuartal II-2021. Meskipun demikian, Edy melihat masih ada catatan yang perlu disikapi dengan bekerja keras.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk pertambangan dan produk olahan kelapa sawit. Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa diversifikasi ekspor masih menjadi tantangan yang mesti dijawab.

Sumber: Antara

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu