Ekonomi

Krusial Bagi Sektor Transportasi, Proyek Kereta Cepat Punya Risiko Shortfall Demand!

MTI menyatakan keberadaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung penting dan krusial bagi sektor transportasi publik di Indonesia di masa depan


Krusial Bagi Sektor Transportasi, Proyek Kereta Cepat Punya Risiko Shortfall Demand!
Suasana area proyek pembangunan Terowongan atau Tunnel Kereta Cepat Jakarta-Bandung di kawasan Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat, Senin (11/11/2019). Pembangunan terowongan atau tunnel kereta cepat sepanjang lima kilometer tersebut membentang dari Halim Perdanakusuma hingga Pondok Gede. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai bahwa keberadaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung penting dan krusial bagi sektor transportasi publik di Indonesia di masa depan.

"Penting sekali proyek ini diselesaikan karena sudah berjalan," ujar Sekretaris Jenderal MTI Harya Setyaka Dillon dilansir dari Antara, Selasa (19/10/2021).

Ia menjelaskan proyek ini tidak hanya menjadi alternatif kepadatan rute di jalan tol, tetapi juga dapat menangkap kebutuhan masyarakat berpuluh-puluh tahun yang akan datang.

Menurut dia, masalah pertumbuhan arus kunjungan penduduk maupun pengembangan wilayah di sekitar kedua kota ini dapat terselesaikan dengan kehadiran proyek infrastruktur darat ini.

"Dampak proyek ini pasti sangat panjang, dan nantinya dengan adanya kereta cepat, nanti konektivitas regional terbangun," jelasnya.

Namun, Harya mengatakan dampak ekonomi dari adanya kereta cepat tidak akan dirasakan dalam lima tahun pertama masa operasional, melainkan 10 hingga 30 tahun ke depan.

"Ini tidak jauh berbeda dengan jalan tol, bandara, pelabuhan. Saat baru diresmikan, pelabuhan mungkin baru dirasakan manfaatnya 15 tahun ke depan," katanya.

Terkait adanya pembengkakan biaya dan potensi penggunaan APBN, ia mengakui kondisi yang disebabkan pandemi Covid-19 itu menempatkan pemerintah dan konsorsium dalam posisi yang sulit.

Harya mengatakan pandemi Covid-19 merupakan hal yang tidak bisa diprediksi dan di luar perencanaan sehingga pembangunan proyek kereta cepat menjadi tersendat dan pelaksanaan proyek infrastruktur lainnya menjadi terganggu.