Ekonomi

Krisis Pangan Mengintai, Indonesia Tolong Segera Lakukan Reformasi Kebijakan Pertanian!

Konflik geopolitik global yang mempengaruhi kondisi ekonomi dunia, ancaman perubahan iklim dan permasalahan produktivitas mengintai Indonesia


Krisis Pangan Mengintai, Indonesia Tolong Segera Lakukan Reformasi Kebijakan Pertanian!
Ilustrasi sektor pertanian (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Indonesia perlu melakukan reformasi secara menyeluruh pada kebijakan sektor pertanian untuk mencegah terjadinya krisis pangan.

Konflik geopolitik global yang mempengaruhi kondisi ekonomi dunia, ancaman perubahan iklim dan permasalahan produktivitas membuat Indonesia tidak lepas dari ancaman krisis ini.

“ Diperlukan pemahaman dari semua pihak kalau sistem pangan itu kompleks, terdiri dari produksi, distribusi, rantai pasok dan juga perdagangan internasional. Membenahi salah satu saja tidak akan cukup karena semuanya saling menopang dalam memastikan ketersediaan pangan untuk konsumen,” jelas Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta lewat keterangannya, Sabtu (25/6/2022).

baca juga:

Global Food Security Index 2021 menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 113 negara. Indeks ini juga menunjukkan Indonesia berada di peringkat 113 dari 113 dalam Sumber Daya Alam dan Ketahanan yang dapat diartikan Indonesia memiliki kerentanan terhadap risiko sumber daya alam, perubahan iklim, dan adaptasi terhadap risiko-risiko tersebut.

Selain itu, Indonesia menempati peringkat ke-54 dalam Keterjangkauan dan peringkat ke-95 dalam Kualitas & Keamanan.

Felippa menjelaskan peringkat-peringkat tersebut merefleksikan bahwa kebijakan pertanian yang sudah dijalankan perlu dievaluasi dan diadaptasi supaya bisa menjawab tantangan dari risiko-risiko tadi. Swasembada yang seringkali dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan pertanian, sudah tidak relevan untuk Indonesia.

“ Terus bertambahnya jumlah populasi dan terus berkurangnya luas lahan pertanian sudah menunjukkan adanya keterbatasan pada daya dukung lahan untuk menyediakan pangan bagi ratusan juta penduduk. Kita perlu memanfaatkan keterbatasan yang ada dengan metode yang lebih efisien dan tidak membahayakan lingkungan,” urai Felippa.

Ia menambahkan kebijakan pertanian perlu diarahkan pada intensifikasi yang fokus pada pemanfaatan lahan yang sudah ada dengan menggunakan input pertanian berkualitas. Kebijakan ini dapat mendukung sistem pertanian berkelanjutan dengan memastikan lingkungan bisa terus memberikan manfaat kepada manusia, dengan cara-cara yang aman.

Peneliti CIPS Aditya Alta menyebut upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura mendesak dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Tanah Air, seperti penambahan jumlah penduduk, berkurangnya lahan produktif dan peningkatan daya beli masyarakat.